Perbedaan Struktur Kayu Keras dan Kayu Lunak Secara Mikroskopis

Kayu yang terbentuk oleh kayu keras sangat berbeda dengan kayu lunak. Kayu lunak hanya terdiri dari beberapa jenis sel, memiliki struktur yang relatif sederhana dan sering tidak memiliki penampilan yang khas. Kayu keras terdiri dari proporsi yang sangat beragam dengan jenis sel yang berbeda sehingga mempunyai karakteristik yang unik. Karakteristik yang unik dari kayu keras , membuat kayu ini banyak digunakan untuk furnitur, panel dan dekorasi lainnya. Perbedaan struktur kayu keras dan kayu lunak secara mikroskopis akan dijelaskan sebagai berikut.

1. Kayu lunak hanya terdiri atas beberapa sel yang signifikan (Gambar 1), sedangkan kayu keras terdiri atas beragam jenis sel (Gambar 2). Sel panjang dikenal sebagai takeid longitudinal terdiri dari 90-95% dari volume kayu lunak. Sel jari-jari (ray) (baik jari-jari trakeid atau jari-jari parenkim) merupakan sisa dari xilem kayu lunak. Meskipun beberapa jenis sel dapat muncul, mereka merupakan bagian kecil dari volume kayu lunak. Kayu keras terdiri dari sekurangnya empat jenis sel utama, masing-masing sel merupakan bagaian yang signifikan dari volume kayu. Jenis sel utama dari kayu keras dapat dilihat pada Tabel 1.

Struktur kayu lunak
Sumber: Shmulsky et al. 2011

Gambar 1 Struktur kayu lunak

Struktur kayu keras
Sumber: Shmulsky et al. 2011

Gambar 2 Struktur kayu keras

2. Hanya kayu keras yang memiliki pembuluh, struktur terdiri dari unsur-unsur pembuluh

3. Pada kayu keras lebar jari-jari (ray) bervariasi dalam dan antar spesies. Mereka biasanya lebih luas dari kebanyakan jari-jari uniseriat pada kayu lunak. Kecuali pada jari-jari fusiform, jari-jari kayu lunak merupakan satu sel lebar (atau kadang-kadang dua) ketika dilihat secara tangensial. Secara keseluruhan, sel jari-jari terdiri atas 5-7% dari total volume kayu lunak. Jari-jari kayu keras dengan lebar berkisar dari 1 sel sampai 30 sel atau lebih pada beberapa spesies. Jari-jari ini dapat lebih dari 30% dari volume xilem kayu keras dengan rata-rata sekitar 17%.

4. Baris radial lurus dari sel merupakan ciri-ciri dari kayu lunak, tetapi umumnya tidak pada kayu keras. Sel kayu lunak selaras pada baris radial lurus dalam bentuk paralel, dengan jari-jari spokelike lurus. Setiap baris sel dibentuk oleh fusiform tunggal dalam kambium. Jari-jari kayu keras jarang selaras pada baris radial lurus seperti unsur kayu lainnya. Distorsi dari orientasi murni radial terjadi disekitar unsur pembuluh besar.

5. Serat kayu keras jauh lebih pendek dari trakeid kayu lunak. Panjang trakeid pada kayu lunak rata-rata 3-4 mm, sedangkan serat dari kayu keras memiliki panjang rata-rata kurang dari 1 mm. Hal ini mengakibatkan trakeid kayu lunak sering lebih disukai sebagai bahan baku untuk pembuatan kertas. Panjang serat merupakan faktor penting dalam penentu dari kekuatan kertas.

Tabel 1 Jenis sel utama dari kayu keras

Jenis
sel

Proporsi
volume xilem pada tipe sel*

Serat trakeid+

15-60

Unsur pembuluh

20-60

Parenkim longitudinal

0-24

Jari-jari parenkim

5-30

Keterangan:
*Dalam suatu spesies, proporsi relatif dari berbagai jenis sel cukup konsisten. Antara spesies dan kelompok spesies (genus), proporsi berbagai sel dapat sangat bervariasi
+ Termasuk dalam kategori ini adalah beberapa jenis sel: variasi serta trakeid sebenarnya dan unsur transisi antara serat dan unsur pembuluh atau antara serat dan parenkim longitudinal

 

Sumber:

Haygreen GJ, Bowyer JI. 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Diterjemahkan oleh Sutjipto A. Hadikusumo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Shmulsky R, Jones PD, Lilley K. 2011. Forest Products and Wood Science An Introduction. Edisi ke-6. USA: Wiley-Blackwell.

Tumbuhan dan Hewan Langka di Indonesia

tumbuhan dan hewan langka di indonesia
Persebaran makhluk hidup di Indonesia terletak antara zona oriental, zona australasia, serta zona peralihan, sehingga memiliki keunikan dan mempunyai banyak tumbuhan dan hewan langka. Tumbuhan dan hewan langka dapat mengalami kepunahan apabila tidak dilindungi dengan baik, sehingga diperlukan tindakan pelestarian dan konservasi. Artikel berikut ini akan dibahas mengenai tumbuhan dan hewan yang langka di Indonesia diantaranya sebagai berikut.

1. Tumbuhan langka

Adakah di daerah tempat tinggal Anda terdapat tanaman seperti sawo kecik, sukun berbiji, matoa, sagu, atau kluwak? Tumbuh-tumbuhan itu termasuk tumbuhan langka. Tumbuhan itu termasuk langka karena populasinya sudah berkurang. Berikut ini berbagai tumbuhan langka di Indonesia dapat dilihat secara rinci pada Tabel 1

Tabel 1 Daftar tumbuhan langka dan tumbuhan yang dilindungi di Indonesia

No.

Nama Indonesia

Nama latin

1.

Sawo kecik

Manilkara elasticus

2.

Sukun berbiji

Artocarpus communis

3.

Nangka celeng

Artocarpus heterophyllus

4.

Gandaria

Bouea macrophylla

5.

Bedali

Radermachera gigantea

6.

Matoa

Pometia pinnata

7.

Kluwak

Pangium edule

8.

Mundu

Garcinia dulcis

9.

Winong

Tetrameles mudiflora

10.

Putat

Plannhonia valida

11.

Bendo

Artocarpus elasticus

12.

Sagu

Metroxylon sagu

13.

Kepuh

Stereula foetida

14.

Bungur

Lagerstroemia spesiosa

15.

Rafflesia, bunga padma

Rafflesia sp.

16.

Anggrek jamrud

Dendrobium macrophyllum

17.

Anggrek kasut pita

Paphiopedilum praestans

18.

Anggrek bulan ambon

Phalaenopsis amboinensis

19.

Anggrek bulan raksasa

Phalaenopsis gigantea

20.

Tengkawang

Shorea stenopten

21.

Tengkawang

Shorea mexistopteryx

22.

Tengkawang

Shorea singkawang

23.

Pinang merah kalimantan

Cystostachys lakka

24.

Pinang merah bangka

Cystostachys ronda

25.

Bertan

Eugeissona utilitis

26.

Daun payung

Johanneste ijsmaria altifrons

27.

Palem kipas sumatera

Livistona sp.

28.

Palem sumatera

Nenga gajah

29.

Korma rawa

Phonix paludosa

30.

Manga

Pigafatta filaris

31.

Pinang jawa

Pinanga javana

32.

Vanda sumatera

Vanda sumatrana

33.

Kantong semar

Nephentes sp.


2. Hewan langka

Selain tumbuhan langka, Indonesia terdapat juga hewan langka. Daftar hewan langka di Indonesia dapat di lihat pada Tabel 2.
Tabel 2 Daftar hewan langka dan hewan yang dilindungi di Indonesia

No.

Nama Indonesia

Nama latin

1.

Harimau jawa

Panthera tigris sondaicus

2.

Macan kumbang

Panthera pardus

3.

Tapir

Tapirus indicus

4.

Komodo

Varanus komodensis

5.

Maleo

Macrocephalon maleo

6.

Banteng

Bos sondaicus

7.

Mandril

Nasalis larvatus

8.

Cendrawasih

Paradisea minor

9.

Kanguru pohon

Dendrolagus ursinus

10.

Kakatua raja

Probociger aterrimus

11.

Buaya muara

Crocodylus porosus

12.

Ular sanca hijau

Chondrophyton viridis

13.

Harimau Sumatra

Panthera tigris sumatrae

14.

Babirusa

Babyrousa babyrussa

15.

Orang utan Sumatra

Pongo pygmaeus abelii

16.

Orang utan Kalimantan

Pongo pygmaeus pygmaeus

17.

Bekantan

Nasalis larvatus

18.

Gajah Asia

Elephas maximus

19.

Badak Sumatra

Decerorhinus sumatrensis

20.

Kasuari

Casuarius casuarius

21.

Anoa daratan rendah

Anoa depressicornis

22.

Anoa
pegunungan

Anoa
quarlesi

23.

Binturung

Articitis binturong

24.

Monyet hitam sulawesi

Cynopithecus niger

25.

Kucing hutan, meong congkok

Felis bengalensis

26.

Beruang madu

Helarctos malayanus

27.

Landak

Hystrix brachyura

28.

Trenggiling, peusing

Manis javanica

29.

Harimau dahan

Neofelis nebulusa

30.

Kuskus

Phalanger sp.

31.

Lutung dahi putih

Presbitys frontata

32.

Lutung merah, Kelasi

Presbitys rubicunda

33.

Landak irian, landak semut

Procidna bruijni

34.

Badak jawa

Rhinoceros sondaicus

35.

Simpei mentawei

Simias concolor

36.

Tapir, cipan, tenuk

Tapirus indicus

37.

Kanguru tanah

Thylogale sp.

38.

Pecuk ular

Anhinga melanogaster

39.

Julang, enggang, rangkong

Bucerotidae

40.

Kakatua besar jambul kuing

Cacatua galerita

41.

Kasuari kecil

Casuarius benneti

42.

Kuntul, bangau putih

Egretta sp.

43.

Beo nias

Gracula religiosa robusta

44.

Bayan

Lorius roratus

45.

Burung hantu biak

Otus migicus beccarii

46.

Kura irian leher panjang

Chelodina novaeguineae

47.

Penyu hijau

Chelonia mydas

48.

Labi-labi besar

Chitra indica

49.

Buaya air tawar irian

Crocodylus novaegiuneae

50.

Penyu belimbing

Dermochelys coriacea

51.

Biawak komodo, ora

Varanus komodoensis

52.

Kupu sayap burung goliat

Ornithoptera goliath

53.

Kupu sayap burung surga

Ornithoptera paradisea

54.

Kupu raja

Troides amphrysus

55.

Nautilus berongga

Nautilus pompillius

56.

Ketam tapak kuda

Tachiplues gigas

57.

Kima raksasa

Tridacna maxima


Sumber:

Firmansyah R, Mawardi A, Riandi MU. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Kistinnah I, Lestari ES. 2009. Biologi Makhluk Hidup dan Lingkungan. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.
Suwarno. 2009. Panduan Pelajaran Biologi. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

 

 

Struktur Kayu Keras

Sebelum lebih lanjut untuk mengetahui struktur kayu keras, sebaiknya baca dulu mengenai (Perbedaaan struktur kayu keras dan kayu lunak secara mikroskopis). Dalam artikel tersebut menjelaskan Perbedaaan struktur kayu keras dan kayu lunak secara mikroskopis.

Struktur kayu keras lebih bervariasi dan lebih kompleks dibandingkan dengan struktur kayu lunak. Kayu keras terdiri dari proporsi yang sangat beragam dengan jenis sel yang berbeda (Gambar 1) sehingga mempunyai karakteristik yang unik. Karakteristik yang unik dari kayu keras , membuat kayu ini banyak digunakan untuk furnitur, panel dan dekorasi lainnya. Klasifikasi dari tipe sel pada kayu keras berdasarkan orientasinya dan fungsi dari sel-sel penyusunnya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Klasifikasi tipe sel pada kayu keras berdasarkan orientasinya dan fungsi dari sel-sel penyusunnya

Longitudinal

Transversal

A.Penguat, penyalur atau keduanya

a.Pembuluh

b.Serat
-Serat trakeid

Serat libriform

c.Trakeid

Trakeid vaskuler

Trakeid vasisentrik

A. Penguat, penyalur atau
keduanya

Tidak ada

 

B.Penyimpan dan sekresi

a.Parenkim longitudinal

b.Sel epitel

B. Penyimpan dan sekresi

a.Parenkim jari-jari

b.Sel epitel

 

Struktur kayu keras
Sumber: Shmulsky et al. 2011

Gambar 1 Struktur kayu keras

Kayu keras tidak hanya memiliki tipe sel yang komplek tetapi juga memiliki banyak variasi dalam hal ukuran, bentuk dan susunannya. Berikutnya akan dijelaskan masing-masing tipe sel pada kayu keras.

1. Sel longitudinal

a. Elemen pembuluh (pembuluh atau pori)

Pembuluh merupakan struktur yang menjadi pembeda utama antara kayu keras dan kayu lunak, dimana hanya terdapat pada kayu keras dan tidak terdapat pada kayu lunak. Pembuluh memiliki bentuk seperti tabung dengan ukuran lebih pendek daripada serat (fiber) kayu, tetapi diameternya lebih besar daripada serat (fiber) kayu. Panjang pendeknya pembuluh dapat diketahui dengan fakta bahwa mereka sering tidak tumbuh panjang selama proses pematangan dan dapat menjadi lebih pendek dari cambial initials tempat mereka diproduksi. Diameter pembuluh yang besar sering muncul sebagai lubang ketika dilihat secara cross section sehingga pembuluh sering disebut dengan pori-pori. Pembuluh dibentuk dari sejumlah vesel element yang sambung menyambung searah dengan sumbu batang (sepanjang serat). Pembuluh pada kayu awal (early wood) (spring wood) lebih besar daripada kayu akhir (late wood) (summer wood).

Secara umum tipe penyebaran pembuluh dibagi menjadi dua yaitu tersebar atau baur (difus) dan pori cincin (ring porous). Sebagian besar kayu keras memiliki sebaran pembuluh atau pori baur (difus). Sebaran pembuluh atau pori baur (difus) menunjukkan kayu yang memiliki pori-pori ukurannya seragam terdistribusi cukup merata di seluruh cincin pertumbuhan (Gambar 2b), sedangkan tipe ring porous berbentuk cincin pada pembuluh kayu awal (early wood) yang terlihat pada bagian cross section pohon (Gambar 2a). Pengelompokan pembuluh dapat menjurus ke arah radial, tangensial atau diagonal. Beberapa jenis kayu memiliki pori tata lingkar seperti pada jati (Tectona grandis). Susunan porinya soliter atau berganda.

(A) Kayu keras tipe ring porous, (B) kayu keras tipe pori baur (difus)
Sumber: Shmulsky et al. 2011

Gambar 2 (A) Kayu keras tipe ring porous, (B) kayu keras tipe pori baur (difus)

Setiap pembuluh terdapat noktah yang merupakan penghubung antar pembuluh. Noktah dibagi menjadi noktah sederhana (simple pit), noktah semi border pit dan noktah berhalaman (border pit). Pola penyebaran noktah meliputi scalariform, opposite dan alternate. Reaksi enzimatik menyebabkan dinding penyekat pembuluh menjadi terbuka sehingga terbentuk bidang perforasi, diaman kondisi tersebut terjadi pada saat pembuluh menjadi dewasa. Bentuk bidang perforasi pada sel pembuluh antara lain simple, scalariform dan foraminate perforation.

Pola penyebaran noktah
Sumber: Shmulsky et al. 2011

Gambar 3 Pola penyebaran noktah. (A) alternate, (B) opposite, (C) scalariform

Bentuk bidang perforasi pada sel pembuluh
Sumber: Shmulsky et al. 2011

Gambar 4 . Bentuk bidang perforasi pada sel pembuluh. Bentuk simple (sebelah kiri, bentuk scalariform (bagian tengah) dan foraminate (Sebelah kanan)

Pembuluh sering terdapat berdekatan dengan serat trakeid, longitudinal dan parenkim jari-jari atau dengan jenis sel lain. Meskipun serat trakeid dan pembuluh kadang-kadang tidak terhubung oleh pitting, tetapi jenis sel lain biasanya membentuk pit dimana mereka terhubung dengan pembuluh.

b. Serat trakeid

Serat trakeid merupakan sel yang berbentuk panjang dan langsing, dindingnya lebih tebal daripada parenkim dan pembuluh. Serat trakeid memiliki panjang berkisar 300-600 mikron, ukuran diameternya 15-50 mikron. Sel serat trakeid pada kayu keras lebih pendek dibandingkan dengan trakeit pada kayu lunak. Serat trakeid pada kayu keras cenderung berbentuk bulat pada cross section, berbeda dengan kayu lunak yang berbentuk hampir persegi panjang (Gambar 5).

Perbedaan serat trakeid pada kayu lunak dan kayu keras dilihat secara transversal
Shmulsky et al. 2011

Gambar 5 Perbedaan serat trakeid pada kayu lunak dan kayu keras dilihat secara transversal. (A) serat trakeid pada kayu lunak, (B) serat trakeid pada kayu keras

Kayu keras terdiri atas dua jenis sel longitudinal yang umum yaitu sel serat trakeid dan pembuluh. Serat trakeid pada kayu keras mempunyai fungsi utama yaitu sebagai penunjang elemen dalam kayu khususnya yaitu pembuluh. Kepadatan dan kekuatan kayu keras biasanya berkaitan dengan bagian volume kayu yang ditempati oleh serat relatif. Semakin tinggi proporsi tebal serat dinding kayu maka kayu tersebut akan semakin kuat.

Dinding serat trakeid ditandai dengan tipe pembatas dari pit. Serat terhadap pit serat biasanya dibatasi, sedangkan serat terhadap pit parenkim bisanya berbatas setengah. Sebuah variasi dari serat yang dikenal dengan serat libriform mudah ditandai tetapi bukan dari pembatas pit. Serat libriform terbentuk dalam jumlah yang cukup besar pada beberapa spesies kayu. Serat dan pembuluh jarang dihubungkan oleh pasangan pit.

c. Parenkim longitudinal

Sel-sel parenkim pada kayu keras hadir dalam bentuk panjang, sel longitudinal runcing, pendek, bata yang berbentuk epitel disekitar saluran gum (hanya pada beberapa spesies) dan sel jari-jari (ray). Bentuk longitudinal parenkim biasanya dibagi menjadi beberapa sel yang lebih kecil melalui pembentukan crosswalls selama proses pematangan sel. Parenkim umumnya terlihat berupa jaringan yang berwarna lebih cerah daripada jaringan serat. Secara umum tipe parenkim dibagi menjadi dua yaitu parenkim apotrakea (tidak berhubungan langsung dengan pembuluh) dan parenkim para trakea (berhubungan langsung dengan pembuluh).
Parenkim apotrakea terdiri atas parenkim baur, parenkim kelompok baur (pada kayu dungun), parenkim bentuk pita (pada kayu matoa), parenkim bentuk jala (pada kayu nyatoh) dan parenkim bentuk tangga (pada kayu tepis). Parenkim paratrakea terdiri atas parenkim paratrakea jarang, parenkim terselubung, parenkim bentuk sayap (aliform) dan parenkim konfluen.

Sel parenkim longitudinal
Gambar 6 Sel parenkim longitudinal

d. Epithelial cell of longitudinal traumatic gum canal (saluran interseluler)

Saluran ini pada kayu keras dikenal dengan saluran damar. Berdasarkan arah batangnya saluran interseluler dibagi menjadi dua yaitu saluran aksial (searah dengan sumbu batang) dan saluran radial (searah dengan jari-jari). Menurut proses terjadinya saluran interseluler dibagi menjadi normal (terjadi karena faktor keturunan) dan traumatik (karena faktor perlakuan).

2. Sel transversal

a. Jari-jari (ray)

Jari-jari pada kayu keras kisaran lebar secara tangensial yaitu 1-30 atau lebih sel. Berbeda dengan kayu lunak, sel dari jari-jari kayu keras yaitu semuanya jenis parenkim atau tersusun oleh sel parenkim jari-jari (meskipun dua jenis yang berbeda dari parenkim jari-jari yang terbentuk). Rata-rata jumlah volume jari-jari berkisar antara 5-30% dari total volume kayu.

Kayu keras tidak mempunyai trakeid jari-jari, namun sel parenkim memilikinya yaitu upright ray cells (sel-sel tegak penyusun jari-jari) dan procumbent ray cells (sel rebah penyusun jari-jari). Sel parenkim jari-jari dari kayu keras kadang-kadang hampir berbentuk persegi ketika dilihat radial, tetapi lebih umum sel-sel tersebut berbentuk persegi panjang. Kebanyakan kayu, sel jari-jari persegi panjang yang tersusun dengan sedemikian rupa sehingga dimensi panjang tegak lurus dengan sumbu sel longitudinal, karena sel jari-jari disusun seperti tersebut terlihat pada posisi rebah maka disebut dengan procumbent ray cells. Pada beberapa spesies kayu keras, bagian dari sel jari-jari berbentuk persegi panjang terlihat tegak diujung, dengan sumbu panjangnya sejajar dengan arah serat sehingga sel ini disebut dengan upright ray cells (Gambar 7). Sel jari-jari persegi atau tegak biasanya terlihat disepanjang bagian atas dan bawah pinggir dari jari-jari.

Jari-jari terbagi menjadi dua yaitu homoseluler dan heteroseluler. Berdasarkan jumlah sel kearah lebarnya, jari-jari terbagi menjadi: uniseriate, biseriate dan multiseriate.

Kayu keras ditandai dengan jari-jari yang sangat besar seperti oak menunjukkan pola khas jari-jari pada kedua tangensial dan permukaan radial. Jari-jari tersebut sering menambah daya tarik estetika pada kayu keras.

Upright ray cells (sel-sel tegak penyusun jari-jari) pada pinggir jari-jari dilihat secara radial
Sumber: Shmulsky et al. 2011

Gambar 7 Upright ray cells (sel-sel tegak penyusun jari-jari) pada pinggir jari-jari dilihat secara radial

 

Sumber:

Haygreen JG, Bowyer JL. 1996. Forest Product and Wood Science-An Introduction. Edisi ke-3. USA: Iowa State University Press.

Panshin AJ, Carl de Zeeuw. 1964. Textbook of Wood Technology. USA: Mc Graw-Hill Book Company.

Shmulsky R, Jones PD, Lilley K. 2011. Forest Products and Wood Science An Introduction. Edisi ke-6. USA: Wiley-Blackwell.

 

 

Taman Nasional yang Ada Di Indonesia

Indonesia merupakan negara yang menyimpan kekayaan keanekaragaman hayati (biodiversitas) yang sangat besar. Beragam tumbuhan, hewan, jamur, bakteri, dan jasad renik lain banyak terdapat di Indonesia. Bahkan banyak jenis makhluk hidup yang merupakan makhluk hidup endemik atau hanya ditemukan di suatu daerah saja. Supaya keanekaragaman hayati ini tetap terjaga dengan baik, diperlukan suatu upaya pelestarian terhadap keanekaragaman hayati tersebut. Salah satu upaya untuk pelestarian keanekaragaman hayati di Indonesia yaitu dengan melakukan perlindungan alam seperti pembuatan taman nasional.

Taman nasional yaitu kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya pariwisata, dan rekreasi. Pemerintah Indonesia telah mengembangkan berbagai taman nasional yang tersebar di beberapa daerah di seluruh kawasan di Indonesia. Berikut ini taman nasional yang ada di Indonesia yaitu sebagai berikut.

1. Pulau Sumatera

Terdapat beberapa taman nasional di Pulau Sumatera diantaranya yaitu:

a. Taman Nasional Gunung Leuser, yang terletak di Provinsi Sumatra Utara dan Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Taman Nasional ini terdapat beberapa flora dan fauna diantaranya:

  • Sekurangkurangnya terdapat 50 jenis anggota famili Dipterocarpaceae (meranti, keruing, dan kapur)
  • Terdapat beberapa jenis buah, seperti jeruk hutan (Citrus macroptera), durian hutan (Durio exyleyanus), buah limus, (Mangifera foetida), rukem (Flacuortia rukam) dan menteng (Baccaurea rasemosa)
  • Flora langka seperti Rafflesia arnoldii dan Johannesteisjmannia altrifrons (sejenis palem)
  • Terdapat 89 jenis satwa langka yang dilindungi antara lain: gajah (Elephas maximus), beruang Malaya (Ursus malayanus), harimau sumatra, badak sumatra (Dicerorhinus sumatrensis), orang utan sumatra (Pongo pygmaeus abelii), kambing sumba, tapir (Tapirus indicus), burung kuda, macan akar dan itik liar
Taman Nasional Gunung Leuser
Sumber: http://galeriwisata.wordpress.com

Gambar 1 Taman Nasional Gunung Leuser

b. Taman Nasional Kerinci Seblat, yang terletak membentang di empat provinsi yaitu Provinsi Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jambi dan Bengkulu. Taman Nasional ini terdapat beberapa flora dan fauna diantaranya:

  • Jenis flora terutama famili Dipterocarpaceae (meranti, keruing, dan kapur), Leguminosae, dan Liana
  • Beberapa flora langka seperti bunga bangkai Amorphophallus titanium, Rafflesia arnoldii, palem (Livistona altissima), anggrek (Bilbophyllum sp. dan Dendrobium sp.), pasang (Quercus), dan kismis (Podocarpus sp.)
  • Beberapa jenis fauna antara lain: kelinci hutan, bangka ungko, rusa, harimau kumbang, badak Sumatra, gajah, tapir, muncak, kera ekor panjang, siamang, berang-berang, serta jenis burung dan reptilia

c. Taman Nasional Bukit Barisan Selatan, terletak membentang dari ujung selatan Provinsi Bengkulu sampai ujung selatan Provinsi Lampung. Taman Nasional ini terdapat beberapa flora dan fauna diantaranya:

  • Beberapa jenis flora diantaranya: meranti (Shorea sp.), keruing (Dipterocarpus), pasang (Quercus spp.), damar (Agathis alba), kemiri (Aleurutes mollucana), pengarawang (Hopea spp.), temutemuan (Zingiberaceae), cemara gunung (Cassuarina equisetifolia), mengkudu (Morinda citrifolia), dan Rafflesia arnoldii
  • Beberapa jenis fauna antara lain: babi rusa, beruang madu, macan tutul, gajah, tapir, kijang, landak, ular sanca, harimau sumatra, badak sumatra, kerbau liar, owa, kambing hutan, ajak dan trenggiling. Berbagai jenis burung seperti bangau putih, bangau tong-tong, dara laut, angsa laut, rangkong, dan raja udang


2. Pulau Jawa

Terdapat beberapa taman nasional di Pulau Jawa diantaranya yaitu:

a. Taman Nasional Ujung Kulon, terletak di ujung paling barat Pulau Jawa yang merupakan hutan dataran rendah.

  • Taman nasional ini adalah habitat terakhir dari hewan-hewan yang terancam punah, seperti badak bercula satu (Rhinoceros sondaicus), banteng (Bos sondaicus), harimau loreng (Panthera tigris), Surili (Presbytis aygula), dan owa jawa (Hylobathes moloch).

b. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, terletak di Kabupaten Bogor, Cianjur, dan Sukabumi yang merupakan pegunungan hutan hujan tropik.

  • Taman nasional ini mewakili hutan hujan tropis pegunungan di Jawa yang berupa hutan submontane, hutan montane, dan subalpine yang memiliki iklim lembab sehingga didominasi oleh jenis paku-pakuan seperti: Hymmenophyllaceae, Gleischenia, Gaulthenisa, dan semak Rhododendron.
  • Taman nasional ini juga terdapat pohon raksasa seperti rasamala (Altingia exelsa) yang dapat mencapai tinggi 60 m serta terdapat bunga abadi yang tidak pernah layu, yaitu bunga Anaphalis javanica. Fauna yang terdapat di taman nasional ini yaitu owa jawa (merupakan hewan endemik), lutung, macan tutul, kera, dan surili
taman nasional gunung gede pangrango
Sumber: http://www.dephut.go.id

Gambar 2 Taman Nasional Gunung Gede Pangrango

c. Taman Nasional Kepulauan Seribu, terletak di Kepulauan Seribu. Taman nasional ini terdapat ekosistem yang dilindungi berupa terumbu karang yang unik.

d. Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, membentang dari Kabupaten Probolinggo, Malang, Pasuruan, dan Lumajang ( Jawa Timur). Taman nasional ini terdapat jenis tumbuhan yang spesifik yaitu cemara gunung (Cassuarina junghuniana), sedangkan jenis fauna diantaranya: kijang, ayam hutan/alas, babi hutan, ajak, rusa, dan macan tutul.

e. Taman Nasional Meru Betiri, terletak di Jember Selatan (Jawa Timur). Taman nasional ini terdapat beberapa jenis hewan diantaranya harimau loreng jawa, kancil, kijang, rangkong, merak, penyu karet, dan penyu blimbing serta beberapa jenis tumbuhan seperti Balanophora fungosa dan Rafflesia zollingeri.

f. Taman Nasional Baluran, terletak di ujung timur Pulau Jawa. Taman nasional ini merupakan contoh ekosistem dataran rendah kering, dengan musim kering yang panjang antara 4 – 9 bulan. Jenis flora terdapat di taman nasional ini antara lain: dadap biru (Eythrina eudophylla), pilang, kosambi, kemloko, widoro, klampis, kemiri, talok, wungur, laban, dan asam. Jenis faunanya yang terdapat di sini antara lain: banteng, rusa, kerbau liar, ular piton, macan tutul, ajak, linsang, kijang, dan babi hutan.


3. Pulau Bali

Taman nasional yang ada di Pulau Bali yaitu Taman Nasional Bali Barat, terletak di Kabupaten Buleleng dan Jimbaran yang merupakan habitat hutan alam murni sawo kecik, Manilkara kauki serta terdapat jenis hewan khas yang hampir punah yaitu jalak bali putih. Beberapa jenis hewan lain yang dilindungi antara lain kera hitam, menjangan, muncak, landak, trenggiling, ayam hutan, kepodang, pelatuk, dan penyu.

Taman Nasional Bali Barat (kiri) yang terdapat salah satu hewan khas yang hampir punah yaitu jalak bali putih (Leucopsar rothschildi) (kanan)
Sumber: http://iffocus.wordpress.com; http://www.dephut.go.id

Gambar 3 Taman Nasional Bali Barat (kiri) yang terdapat salah satu hewan khas yang hampir punah yaitu jalak bali putih (Leucopsar rothschildi) (kanan)


4. Pulau Kalimantan

Taman nasional yang ada di Kalimantan yaitu Taman Nasional Tanjung Puting yang terletak di Kabupaten Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur serta Kalimantan Tengah yang topografinya berupa dataran rendah berawa-rawa dan beriklim basah. Taman nasional tersebut dijadikan sebagai tempat rehabilitasi orang utan, yaitu mempersiapkan orang utan sebelum dilepas ke habitat aslinya dan beberapa jenis hewan liar (fauna) yang dilindungi antara lain orang utan, kucing hutan, muncak, musang, lutung merah dan kancil. Beberapa jenis tumbuhan (flora) yang dilindungi, yaitu gluta renghas (tanaman mengandung getah yang dapat merusak saraf) dan durian.

Taman Nasional Tanjung Puting (kiri) yang dijadikan tempat rehabilitasi orang utan (kanan)
Sumber: http://tntanjungputing.blogspot.com; http://www.dephut.go.id

Gambar 4 Taman Nasional Tanjung Puting (kiri) yang dijadikan tempat rehabilitasi orang utan (kanan)

5. Nusa Tenggara

Taman nasional yang terdapat di Nusa Tenggara yaitu Taman Nasional Komodo yang terletak di Pulau Komodo, Gilimotong, Podan, dan Rinca (Provinsi Nusa Tenggara Timur). Kawasan tersebut beriklim muson dan kering, terdapat satu satunya hewan purba yang masih hidup di dunia, yaitu komodo (Varanus komodoensis). Terdapat juga beberapa jenis tumbuhan yang dilindungi antara lain: kayu hitam (Diospyros javanica) dan bayur (Pterospermum diversifolium).

Taman Nasional Komodo (kiri) yang terdapat satu hewan purba yang masih hidup di dunia yaitu komodo (kanan)
Sumber: http://www.dephut.go.id

Gambar 5 Taman Nasional Komodo (kiri) yang terdapat satu hewan purba yang masih hidup di dunia yaitu komodo (kanan)


6. Pulau Sulawesi

Taman nasional yang terdapat di Pulau Sulawesi yaitu Taman Nasional Lore Lindu yang terletak di kota Palu (Sulawesi Tengah). Taman nasional ini didominasi tanaman rotan (Calamus sp.) dan pinang (Pinanga sp.). Selain itu, terdapat beberapa jenis hewan yang dilindungi antara lain anoa dan bajing.


Sumber:

Anonim. 2014. Taman Nasional Gunung Leuser. http://galeriwisata.wordpress.com [6 April 2014].

Anonim. 2011. Bird Watching, Taman Nasional Bali Barat. http://iffocus.wordpress.com [6 April 2014].

Dephut. 2014. Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Bali Barat, Taman Nasional Tanjung Puting, Taman Nasional Komodo. http://www.dephut.go.id [6 April 2014].

Ferdinand F, Ariebowo. 2009. Praktis Belajar Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Kistinnah I, Lestari ES. 2009. Biologi Makhluk Hidup dan Lingkungan. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Sulistyorini A. 2009. Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Apa itu Agroforestri?

AGROFORESTRI
Contoh agroforestri (Sumber: http://www.worldagroforestry.org)

Ketersediaan lahan pertanian yang semakin lama semakin berkurang, hal ini mendorong para petani untuk membuka lahan pertanian di daerah pinggir hutan. Konversi hutan alam menjadi lahan pertanian telah disadari menimbulkan berbagai macam kerugian dan masalah seperti penurunan kesuburan tanah, erosi, kepunahan flora dan fauna, banjir, kekeringan dan bahkan perubahan lingkungan global. Masalah ini bertambah berat dari waktu ke waktu sejalan dengan meningkatnya luas areal hutan yang dikonversi menjadi lahan usaha lain. Salah satu upaya untuk mengatasi masalah ini, maka lahirlah agroforestri sebagai suatu cabang ilmu pengetahuan baru di bidang pertanian atau kehutanan. Ilmu ini berupaya mengenali dan mengembangkan keberadaan sistem agroforestri yang telah dikembangkan petani di daerah beriklim tropis maupun beriklim subtropis sejak berabad-abad yang lalu. Agroforestri merupakan gabungan ilmu kehutanan dengan agronomi yang memadukan usaha kehutanan dengan pembangunan pedesaan untuk menciptakan keselarasan antara intensifikasi pertanian dan pelestarian hutan.

Agroforestri atau disebut juga dengan wanatani memiliki definisi yang beragam. Agroforestri merupakan salah satu sistem pengelolaan lahan hutan dengan tujuan untuk mengurangi kegiatan perusakan/perambahan hutan sekaligus meningkatkan penghasilan petani secara berkelanjutan. Pengertian lain dari agroforestri adalah sistem penggunaan lahan terpadu yang memiliki aspek sosial dan ekologi, dilaksanakan melalui pengkombinasian pepohonan dengan tanaman pertanian dan/atau ternak (hewan), baik secara bersama-sama atau bergiliran, sehingga dari satu unit lahan tercapai hasil total nabati atau hewan yang optimal dalam arti berkesinambungan. Definisi agroforestri yang digunakan oleh lembaga penelitian agroforestri internasional (ICRAF = International Centre for Research in Agroforestry) adalah sistem penggunaan lahan yang mengkombinasikan tanaman berkayu (pepohonan, perdu, bambu, rotan dan lainnya) dengan tanaman tidak berkayu atau dapat pula dengan rerumputan (pasture), kadang-kadang ada komponen ternak atau hewan lainnya (lebah, ikan) sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antara tanaman berkayu dengan komponen lainnya. Selanjutnya Lundgren dan Raintree (1982) mengajukan ringkasan dari berbagai definisi agroforestri dengan rumusan yaitu agroforestri adalah istilah kolektif untuk sistem-sistem dan teknologi-teknologi penggunaan lahan, yang secara terencana dilaksanakan pada satu unit lahan dengan mengkombinasikan tumbuhan berkayu (pohon, perdu, palem, bambu dll.) dengan tanaman pertanian dan/atau hewan (ternak) dan/atau ikan, yang dilakukan pada waktu yang bersamaan atau bergiliran sehingga terbentuk interaksi ekologis dan ekonomis antar berbagai komponen yang ada.

Agroforestri pada dasarnya terdiri atas tiga komponen pokok yaitu kehutanan, pertanian dan peternakan. Masing-masing komponen ini sebenarnya dapat berdiri sendiri sebagai satu bentuk sistem penggunaan lahan (Gambar 1). Hanya saja sistem-sistem tersebut umumnya ditujukan pada produksi satu komoditi khas atau kelompok produk yang serupa. Selain ketiga kombinasi tersebut terdapat kombinasi lain yang termasuk ke dalam agroforestri yaitu:

  1. Agrisilvikutur merupakan kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan (pepohonan, perdu, palem, bambu, dll.) dengan komponen Pertanian
  2. Silvopastura merupakan kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan peternakan
  3. Agrosilvopastura merupakan kombinasi antara komponen atau kegiatan pertanian dengan kehutanan dan peternakan/hewan
  4. Beberapa contoh kombinasi yang menggambarkan sistem yang lebih spesifik yaitu  Silvofishery merupakan kombinasi antara komponen atau kegiatan kehutanan dengan perikanan
  5. Apiculture merupakan budidaya lebah atau serangga yang dilakukan dalam kegiatan atau komponen kehutanan
Ruang lingkup sistem pemanfaatan lahan secara agroforestri
Sumber: Hairiah et al. 2003

Gambar 1 Ruang lingkup sistem pemanfaatan lahan secara agroforestri

Agroforestri dikembangkan untuk memberi manfaat kepada manusia atau meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Agroforestri diharapkan dapat memecahkan berbagai masalah seperti mencegah perluasan tanah terdegradasi dan melestarikan sumberdaya hutan. Harapan utama dari agroforestri yaitu dapat membantu mengoptimalkan hasil suatu bentuk penggunaan lahan secara berkelanjutan guna menjamin dan memperbaiki kebutuhan hidup masyarakat. Sistem berkelanjutan ini dicirikan dengan tidak adanya penurunan produksi tanaman dari waktu ke waktu (meningkatkan mutu pertanian )dan tidak adanya pencemaran lingkungan. Kondisi tersebut merupakan refleksi dari adanya konservasi sumber daya alam yang optimal oleh sistem penggunaan lahan yang diadopsi. Selai itu, agroforestri juga diharapkan dapat menyempurnakan intensifikasi dan diversifikasi silvikultur. Dalam mewujudkan sasaran ini, agroforestri diharapkan lebih banyak memanfaatkan tenaga ataupun sumber daya sendiri (internal) dibandingkan sumber-sumber dari luar. Di samping itu agroforestri diharapkan dapat meningkatkan daya dukung ekologi manusia, khususnya di daerah pedesaan.


Sumber:

De Foresta, Kusworo HA, Michon G, Djatmiko WA. 2000. Ketika kebun berupa hutan-Agroforest khas Indonesia-sebuah sumbangan masyarakat. Bogor: ICRAF.

Hairiah K, Sardjono MA, Sabarnurdin S. 2003. Pengantar Agroforestri. Bogor: ICRAF.

Hairiah K, Utami SR, Suprayogo D, Widianto SM, Sitompul, Sunaryo, Lusiana B, Mulia R, van Noordwijk M, Cadish G. 2000.

Agroforestry on acid soils in humid tropics: managing tree-soil-crop interactions. Bogor: ICRAF.

Hairiah K, Widianto, Sunaryo. 2003. Sistem Agroforestri di Indonesia. Bogor: ICRAF.

Kayu Lapis Struktural

Kayu lapis struktural adalah produk planel dari lembaran-lembaran vinir yang direkatkan sehingga arah serat dari beberapa vinir kayu tegak lurus dan yang lainnya sejajar pada sumbu panjang panel. Pada sebagaian besar jenis kayu lapis, orientasi seratnya dari setiap lembar diterapkan sejajar satu sama lain; orientasi serat vinir berdekatan terletak di sudut kanan. Oleh karena itu, untuk menjaga keseimbangan dari satu permukaan panel dengan yang lainnya, maka jumlah lembaran vinir yang tidak merata (ganjil) sering digunakan. Ada juga beberapa kayu lapis yang dibuat dengan jumlah lembaran vinir yang genap seperti empat atau enam lapis dengan dua vinir diterapkan sejajar untuk membentuk inti pusat yang tebal. Tipe kontruksi ini menghasilkan panel dengan stabilitas dimensi yang sangat baik di sepanjang dan di seluruh sumbu panjang panel. Panel memiliki sifat kekuatan lentur yang signifikan di sepanjang dua sumbu utama, hal ini menguntungkan dalam aplikasi bahan pelapis. Kayu lapis struktural yang tahan air telah tersedia sekitar tahun 1940. Berbagai tipe kontruksi kayu lapis dapat dilihat pada Gambar 1.

Berbagai tipe kontruksi kayu lapis
Sumber: Shmulsky et al. 2011

Gambar 1 Berbagai tipe kontruksi kayu lapis

Spesies pinus kuning selatan (southern yellow pine) atau di dalam perdagangan disebut juga pinus selatan dan Douglas fir adalah dua kelompok spesies utama yang digunakan untuk pembuatan kayu lapis struktural di Amerika Serikat. Selain itu, kayu lunak besar lainnya termasuk true firs, hemlock barat, dan pinus barat (western pines) juga dapat digunakan untuk pembuatan kayu lapis struktural. Beberapa kayu keras seperti poplar kuning (yellow poplar) dan sweet gum juga dapat digunakan. Sedangkan di Indonesia, contoh kayu yang dapat digunakan sebagai bahan baku kayu lapis antara lain: meranti, kamper, mersawa, mengkulang, gerunggang, mahoni, agathis, trembesi, sengon, mindi dan sebagainya. Diameter log yang digunakan untuk bahan baku kayu lapis yaitu di atas 30 cm, tetapi saat ini mesin-mesin yang lebih modern dapat mengolah log dengan diameter yang lebih kecil.

Sifat dan kerja kayu lapis dipengaruhi beberapa faktor. Faktor-faktor yang mempengaruhi sifat dan kinerja kayu lapis berasal dari komposisi kayu lapis itu sendiri antara lain: ketebalan lapisan, jumlah lapisan, jenis vinir dalam satu panel, orientasi lapisan, kualitas kelas vinir dan jenis perekat. Kombinasi dari komposisi tersebut memungkinkan produsen untuk menyesuaikan produk sesuai tujuan penggunaannya.

Menurut SNI tahun 1999, kayu lapis struktural diklasifikasikan menjadi dua kategori yaitu kategori 1 dan 2. Berdasarkan kekuatan ikatan perekatnya kayu lapis diklasifikasikan menjadi dua tipe yaitu: (a) Tipe eksterior I, yaitu kayu lapis struktural yang dalam penggunaannya tahan terhadap cuaca dalam waktu relatif lama; (b) Tipe Eksterior II, yaitu kayu lapis struktural yang dalam penggunaannya tahan terhadap cuaca dalam waktu relatif pendek. Berdasarkan penampilannya, mutu kayu lapis struktural diklasifikasikan menjadi 4 kelas dengan kode kelas mutu berturut-turut A, B, C, dan D, dengan ketentuan mutu lapisan luarnya sama atau hampir sama. Contohnya sebagai berikut: mutu A maksudnya, baik lapisan muka maupun lapisan belakangnya harus memenuhi persyaratan mutu A, sedangkan mutu A/B adalah lapisan mukanya memenuhi persyaratan mutu A dan lapisan belakangnya memenuhi persyaratan mutu B. Persyaratan mutu kayu lapis struktural menurut SNI tahun 1999 dapat dilihat pada Tabel 1

Tabel 1 Persyaratan mutu kayu lapis struktural

No.

karakteristik

Mutu

A

B

C

D

I

Cacat alami

1.

Mata kayu sehat:

– Ø

– jml

≤ 25 mm

≤ 1/20 I

≤ 40 mm

≤ 1/10 l

Boleh

≤ 1/7 l

Boleh

≤ 1/5 l

2.

Mata kayu busuk :

– Ø

– jml

Mata kayu lepas

 Atau lubang

Ø ≤ 3 mm

≤ 1/20 l

Ø ≤ 5 mm

≤ 1/10 l

Ø ≤ 40 mm

≤ 1/7 l

Ø ≤ 40 mm

≤ 1/5 l

3.

Kantong kulit/Kantong damar

Ø ≤ 3 mm

Tidak mencolok

Boleh,atmp Ø ≤ 3 mm

Boleh,atmp

4.

Lubang gerek

Ø ≤ 1,5 mm tersebar

Ø ≤ 1,5 mm

Boleh atmp

Boleh atmp

5.

Perubahan warna

Tidak diperkenankan

Luas ≥ 20 % panel

Boleh

Boleh

II

Cacat teknis

1.

Pecah terbuka

Jml ≤ 2 bh

pj ≤ 20% p

lb ≤ 1,5 mm

Jml ≤ 3 bh

pj ≤ 40% p

lb ≤ 5 mm

atau

jml ≤ 6 bh

pj ≤ 20% p

Letak pecah 25 mm dari tepi lb nya ≤ 6 mm, atau lb ≤15 mm
pj ≤ 50 % p

Letak pecah 25 mm dari tepi lb-nya ≤ 6 mm, atau lb ≤ 25
mm pj bebas

2.

Pecah melintang

Tidak diperkenankan

Tidak diperkenankan

Sangat sedikit

Sangat sedikit

3.

Celah sambungan

Tidak diperkenankan

Tidak diperkenankan

lb ≤  6 mm

lb ≤ 6 mm

4.

Calah inti

Tidak diperkenankan

Jml ≤  3 bh Lb ≤ 2 mm atmp

Jml ≤  5 bh

lb ≤  5 mm

Jml ≤ 5 bh

lb ≤  5 mm

5.

Sisipan

Tidak mencolok

Tidak mencolok

Boleh

Boleh

6.

Dempul

Amplas rata

Amplas rata

Boleh

Boleh

7.

Tambalan

Tidak diperkenankan

Tidak diperkenankan

Jml 1 bh lb ≤ 75 mm

Jml 1 bh

lb ≤ 75 mm

8.

Lepuh

Tidak diperkenankan

Tidak diperkenankan

Boleh

Boleh

9.

Tumpang tindih

Tidak diperkenankan

Tidak diperkenankan

Tidak nampak bagian yang cembung ≤ 1 mm

Tidak nampak bagian yang cembung ≤ 1 mm

10.

Tebal venir tidak rata

Tidak diperkenankan

Tidak diperkenankan

Boleh asal t seragam

Boleh asal t seragam

11.

Bekas kempa

Tidak diperkenankan

Tidak diperkenankan

Tidak mencolok

Tidak mencolok

12.

Cacat lain

Tidak diperkenankan

Tidak diperkenankan

Boleh atmp, atmk dan t seragam

Boleh atmp, atmk dan t seragam

 

Sumber:

Haygreen GJ, Bowyer JI. 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu. Diterjemahkan oleh Sutjipto A. Hadikusumo. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Shmulsky R, Jones PD, Lilley K. 2011. Forest Products and Wood Science An Introduction. Edisi ke-6. USA: Wiley-Blackwell.

SNI. 1999. Standar Nasional Indonesia 01-5008.7: Kayu Lapis Struktural. Jakarta: SNI.

 

 

 

Hasil Hutan Bukan Kayu

gaharu
Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan sumber daya alam yang sangat melimpah di Indonesia dan memiliki prospek yang sangat baik untuk dikembangkan. Sampai dengan tahun 2004, luas hutan Indonesia seluas 120,35 juta ha. Seluas 109,9 juta ha telah ditunjuk oleh Menteri Kehutanan sebagai kawasan hutan. Kawasan hutan tersebut terdiri atas hutan konservasi seluas 23,24 juta ha, hutan lindung seluas 29,1 juta ha, hutan produksi terbatas seluas 16,21 juta, hutan produksi seluas 27,74 juta ha dan hutan produksi yang dapat di konservasi 13,67 juta ha. Sebagai negara tropis, Indonesia merupakan negara dengan kekayaan alam hayati yang tinggi, hal ini tercermin dari keanekaragaman jenis satwa dan flora. Indonesia memiliki 515 jenis mamalia (12% dari jenis mamalia di dunia), 515 jenis reptil (7,3% dari jenis reptil dunia), 1.531 jenis burung (17% dari jenis burung dunia), 270 jenis amphibi, 2.827 jenis invetebrata dan 38.000 jenis tumbuhan. Sumber daya hutan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat apabila kita mampu mengolah dan memanfaatkan sumber daya tersebut secara lestari.

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) adalah hasil hutan hayati baik nabati maupun hewani beserta produk turunan dan budidaya kecuali kayu yang berasal dari hutan. Pengertian lainnya dari hasil hutan bukan kayu yaitu segala sesuatu yang bersifat material (bukan kayu) yang diambil dari hutan untuk dimanfaatkan bagi kegiatan ekonomi dan peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan hasil sampingan dari sebuah pohon, misalnya getah, daun, kulit, buah atau berupa tumbuhan-tumbuhan yang memiliki sifat khusus seperti rotan, bambu dan lain-lain. Pemungutan hasil hutan bukan kayu pada umumnya merupakan kegiatan tradisionil dari masyarakat yang berada di sekitar hutan, bahkan di beberapa tempat, kegiatan pemungutan hasil hutan bukan kayu merupakan kegiatan utama sebagai sumber kehidupan masyarakat sehari-hari. Sebagai contoh, pengumpulan rotan, pengumpulan berbagai getah kayu seperti getah kayu Agathis, atau kayu Shorea dan lain-lain yang disebut damar.

HHBK atau Non Timber Forest Product (NTFP) memiliki nilai yang sangat strategis. HHBK merupakan salah satu sumberdaya hutan yang memiliki keunggulan komparatif dan bersinggungan langsung dengan masyarakat di sekitar hutan. Kontribusi HHBK (rotan, damar, arang, getah-getahan, gaharu, dll) pada tahun 1999 tercatat sebesar US $ 8,4 juta, kemudian meningkat menjadi US $ 19,74 juta pada tahun 2002. Jumlah tersebut belum termasuk kontribusi dari hasil perdagangan flora dan fauna yang tidak dilindungi (PP No. 8/1999) sebesar US $ 61,3 ribu (1999) kemudian meningkat menjadi US $ 3,34 juta pada tahun 2003. Hasil ini terus meningkat sejalan dengan permintaan pasar yang terus meningkat secara signifikan. Sejalan dengan perkembangan IPTEK maka beberapa jenis pohon HHBK manfaatnya tidak sebatas hanya satu fungsi saja namun multifungsi, seperti fungsi sebagai bioenergi (bioethanol, biofuel, biogas) meliputi: mimba (Azadirachta indica), saga hutan (Adenanthera pavonina), mangapari (Pongemia pinnata), nyamplung/bintangur (Calophyllum sp.), kesambi (Scheleira oleosa), gatep pait (Samadera indica), jarak pagar (Jatropha curcas), kelor (Moreinga oleifera), kacang hiris (Cajanus cajan), sukun (Artocarpus altilis), aren (Arenga pinnata), sagu (Metroxylon sp.) dan aneka alga mikro.

HHBK ternyata tidak hanya terbatas hanya madu, rotan, damar dan gaharu saja, tetapi juga termasuk hasil-hasil produksi turunannya termasuk juga jasa lingkungan. Komoditi HHBK dapat dibagi menjadi beberapa kelompok diantaranya dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Kelompok hasil hutan bukan kayu

No.

Kelompok

Jenis produk

I

Resin

1.    Gondorukem

2.    Kopal

3.    Gaharu

4.    Kamedangan

5.    Shellak

6.    Jemang

7.    Damar mata kucing

8.    Kemenyan

II

Minyak atsiri

1.    Minyak cendana

2.    Minyak kayu putih

3.    Lemo

4.    Cengkeh

5.    Masohi

III

Minyak lemak

1.    Tengkawang

2.    Kemiri

3.    Jarak

4.    Nyatoh

5.    Nyamplung

6.    Kapok

7.    Kelor

8.    Mimba

9.    Ketiau

IV

Pati

1.    Sagu

2.    Aren

3.    Gadung

V

Tanin, bahan
pewarna dan getah

1.    Bruguiera

2.    Pinang

3.    Gambir

4.    Segawe

5.    Soga

6.    Jernang

7.    Kunir

8.    Secang

9.    Jelutung

10. Hangkang

11. Balam

12. Gemor

VI

Buah-buhan

1.    Asam

2.    Matoa

3.    Sukun

4.    Duren

VII

Tumbuhan obat dan
tanaman hias

VIII

Rotan dan bambu

IX

Hasil hewan

1.    Sarang burung

2.    Sutera alam

3.    Lebah madu

X

Jasa hutan

XI

Lain-lain

1.    Ijuk

2.    Pandan

3.    Ganitri

Diantara beragam komoditi HHBK tersebut terdapat beberapa komoditi yang cukup berperan sebagai komoditi andalan dengan nilai jual yang tinggi seperti gaharu, kulit gemor yang banyak ditemukan di daerah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan. Gaharu yang berasal dari pohon Aquilaria malaccensis Lamk, merupakan turunan (bentukkan kayu yang memiliki sifat baru) yang terjadi akibat infeksi jamur (Fusarium sp., Botryodiplodia sp., Popularia sp. atau Pytium sp.). Kebutuhan ekspor gaharu semakin meningkat hingga tahun 2000, namun sejak saat itu hingga akhir tahun 2002 produksi gaharu semakin menurun dan hanya mencapai 45 ton/tahun. Negara tujuan ekspor gaharu antara lain Singapura, Saudi Arabia, Taiwan, Uni Emirat Arab, India, Hongkong dan Jepang untuk bahan parfum, hio, dupa, obat kurap, obat kuat, obat rematik dan obat sakit perut.

 

Sumber:

Baharuddin, Taskirawati I. 2009. Hasil Hutan Bukan Kayu. Makasar: Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.

Moko H. 2008. Menggalakan Hasil Hutan Bukan Kayu Sebagai Produk Unggulan. Informasi teknis 6(2), September 2008. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.

Rahmina H, Sofia Y, marbyanto E, Mustofa A. 2011. Tata Cara dan Prosedur Pengembangan Program Pengolahan Hutan Berbasis Masyarakat dalam kerangka UU No. 41 tahun 1999. GIZ, Departemen Kehutanan.

Sumadiwangsa S. 1998. Karakteristik Hasil Hutan Bukan Kayu. Duta Rimba 212 (23): 44-48.

Sumarna Y. 2002. Budidaya Gaharu. Jakarta: Penerbit Penebar Swadaya.

Organ Tumbuhan dan Fungsinya

Organ pada tumbuhan tingkat tinggi terdiri atas akar, batang, daun, bunga, biji, dan buah. Setiap organ pada tumbuhan memiliki fungsi tertentu yang khusus, tetapi mereka saling berhubungan dan saling mendukung satu-sama lain. Berikut akan diuraikan fungsi maupun jaringan-jaringan yang membentuk setiap organ pada tumbuhan.

 

  1. Akar

Akar sebagai organ pada tumbuhan dibentuk dari beberapa jaringan yang berbeda. Fungsi utama organ akar pada tumbuhan, yaitu sebagai alat absorbsi air, nutrisi berbagai garam mineral yang terlarut di dalam tanah, dan pengokoh tumbuhan pada tempat tumbuhnya. Pada tumbuhan tingkat tinggi, yaitu dikotil dan monokotil akarnya sudah merupakan akar sejati. Penamaan ini berdasarkan adanya perbedaan dengan struktur akar yang terdapat pada tumbuhan tingkat rendah, misalnya lumut.

Akar memiliki struktur yang amat kuat, hal ini terbukti dengan kemampuannya untuk menerobos beberapa lapisan tanah yang keras. Akar pada tumbuhan dikotil dapat menjalar sangat jauh dari tempat tumbuhnya. Pada tumbuhan karet, akarnya dapat menembus tembok hingga beberapa meter dari tempat tumbuhnya. Kemampuan penjalaran akar ini memungkinkan tumbuhan mengambil berbagai jenis unsur hara dari sekitar tempat tumbuhnya. Kemampuan akar untuk menerobos lapisan tanah ini disebabkan karena akar memiliki lapisan pelindung yang disebut kaliptra (tudung akar). Kaliptra dapat kita temukan pada akar-akar tumbuhan monokotil maupun dikotil.

Bagian akar terbagi menjadi struktur luar dan struktur dalam. Struktur luar akar terdiri atas tudung akar, batang akar, percabangan akar (hanya pada dikotil), dan bulu-bulu akar. Sementara itu, struktur bagian dalam akar (anatomi akar) terbentuk oleh jaringan epidermis, korteks, endodermis, dan stele(silinder pusat)/empulur. Bagian-bagian akar tersebut tersusun berurutan dari luar ke dalam. Untuk mengetahui struktur bagian dalam akar, anda dapat mengamatinya dengan cara membuat irisan melintang dan membujur pada suatu bagian akar (Gambar 1).

Tudung akar (kaliptra) membentuk lapisan yang membungkus akar. Bagian tersebut melindungi daerah meristem akar, yaitu daerah pertumbuhan yang berada di belakangnya. Tudung akar juga berfungsi mengurangi gesekan antara akar dan butir tanah.

Bulu akar merupakan perluasan permukaan dari epidermis akar. Perluasan permukaan tersebut untuk mengoptimalkan penyerapan air. Pada umumnya, rambut akar tidak memiliki kutikula. Hal tersebut untuk memudahkan pergerakan air dan mineral dari tanah masuk ke pembuluh. Penyerapan air dan mineral paling utama terjadi melalui bulu akar ini.

Korteks terdapat di belakang epidermis. Korteks tersusun atas beberapa lapis sel yang dibentuk oleh beberapa jaringan. Jaringan tersebut di antaranya jaringan sklerenkim, kolenkim, dan parenkim. Dinding sel pada korteks tipis dan terdapat banyak ruang untuk pertukaran gas.

 

Struktur Akar
Struktur Akar

Gambar 1 Struktur akar (a) potongan membujur akar, (b) potongan melintang akar, (c) jaringan pengangkut

 

Lapisan endodermis yang membatasi korteks dan bagian silinder pusat adalah sebaris sel yang tersusun rapat. Sel-sel tersebut memiliki penebalan lignin dan suberin sehingga tidak mudah ditembus oleh air. Penebalan tersebut membentuk semacam pita, yang dinamakan pita Kaspari. Air memasuki silinder pusat melalui sitoplasma sel endodermis sehingga pergerakan air dan mineral lebih mudah diatur. Di belakang lapisan endodermis, terdapat lapisan sel yang disebut perisikel. Pada akar dikotil, perisikel berperan dalam pembentukan cabang akar. Di bagian dalam setelah perisikel, terdapat susunan jaringan pembuluh yang terdiri atas xilem dan floem. Xilem dan floem pada tumbuhan dikotil tersusun radial.

Pada tumbuhan dikotil di antara xilem dan floem, terdapat kambium vasikuler, sebuah jaringan meristematik. Kambium tumbuh ke arah luar membentuk floem sekunder, sedangkan ke arah dalam membentuk xilem sekunder. Akibat pertumbuhan tersebut, akar akan tumbuh membesar dan melebar di dalam tanah. Permukaan luar akar yang dewasa menebal dengan lapisan kambium kayu berada di bagian luar. Lapisan tersebut menggantikan fungsi epidermis dalam melindungi jaringan di bawahnya. Kambium kayu berasal dari lapisan perisikel.

Perbedaan lain antara akar dikotil dan akar monokil, yaitu akar dikotil tidak memiliki empulur, serta xilemnya terletak di pusat akar, berselang-seling dengan floem. Adapun pada akar monokotil, empulurnya berada di pusat akar dan bagian tepi sesudah lapisan endodermis. Keadaan xilem dan floem pada akar monokotil tersusun melingkar (Gambar 2).

Perbedaan akar

 

Gambar 2 Perbedaan akar monokotil (a) dan dikotil (b)

 

  1. Batang

Fungsi utama batang pada tumbuhan adalah tempat lewatnya air yang telah diserap akar menuju daun, menopang cabang dan daun, menentukan tata letak daun, dan sebagai tempat cadangan makanan. Bagian-bagian batang tumbuhan dikotil memiliki persamaan dengan bagian-bagian yang terdapat pada akarnya. Namun demikian, terdapat juga perbedaan di antara keduanya. Perbedaan ini terlihat dari bentuk morfologi antara batang dan akar. Pada batang terdapat ruas dan daun sedangkan pada akar tidak terdapat ruas dan daun. Sebaliknya, pada akar terdapat bulu dan tudung akar, sedangkan pada daun tidak terdapat bulu dan tudung akar. Namun, keduanya secara morfologi memiliki persamaan, yaitu keduanya memiliki percabangan. Pada percabangan batang sering kali terdapat kuncup-kuncup yang terletak di bagian samping batang. Kuncup-kuncup ini nantinya merupakan unsur pembentuk cabang.

Secara anatomi, struktur akar dan batang tidak terlalu jauh berbeda. Perbedaan keduanya hanya dalam hal ada tidaknya endodermis. Pada akar terdapat lapisan endodermis, sedangkan pada batang tidak terdapat lapisan endodermis. Bagian-bagian batang dari luar ke dalam diantaranya epidermis, korteks, dan empulur (Gambar4). Epidermis tersusun atas lapisan sel yang rapat tanpa ruang antarsel. Setelah dewasa, seperti pada akar, fungsi epidermis digantikan oleh pertumbuhan kambium gabus. Kambium gabus memiliki sel yang mengalami penebalan gabus untuk mencegah penguapan air dari batang. Perlindungan kambium gabus ini sangat rapat sehingga gas pun tidak dapat masuk ke dalam sel. Namun demikian, kambium gabus seringkali membentuk lentisel, struktur yang terdiri atas selsel dan tersusun longgar yang berperan dalam pertukaran gas.

 

Penampang melintang batang

Gambar 3 Penampang melintang batang dikotil dan monokotil

 

Korteks pada batang, terdiri atas beberapa jenis jaringan, yaitu jaringan parenkim dan jaringan penyokong yang tersusun atas sklerenkim dan kolenkim. Susunan sel-sel parenkim tidak beraturan sehingga banyak terdapat ruang antarsel. Sel-sel parenkim berdinding tipis dan pada saat batang masih muda, terdapat vakuola yang berisi makanan cadangan berupa amilum.

Jaringan pembuluh pada batang dikotil tersusun dalam lingkaran. Floem di bagian luar lingkaran dan berbatasan langsung dengan korteks. Sementara itu, xilem berbatasan dengan empulur dan terletak berhadapan dengan floem. Di antara kedua jaringan tersebut, terdapat kambium pembuluh yang bersifat meristematik. Pada kayu yang dewasa, kambium pembuluh telah tumbuh ke arah luar membentuk floem sekunder dan ke arah dalam membentuk xilem  sekunder (Gambar 4).

 

Kambiun pembuluh berdiferensiasi

Gambar 4 Kambiun pembuluh berdiferensiasi di antara xilem primer dan floem primer

 

Empulur yang berada di bagian dalam lingkaran kambium pembuluh, sebenarnya terdiri atas jaringan parenkim yang juga berfungsi sebagai penyimpan makanan cadangan . Pada saat dewasa, beberapa jenis tumbuhan kayunya berlubang di bagian tengah. Hal tersebut disebabkan empulurnya mengalami degenerasi sehingga menciptakan ruang kosong di tengah kayu.

 

  1. Daun

Salah satu organ yang sangat memegang peranan penting dalam kehidupan tumbuhan adalah daun. Hal ini disebabkan karena pada daun terjadi proses fotosintesis yang menghasilkan berbagai bahan makanan untuk pertumbuhan. Fotosintesis dapat berlangsung di daun karena daun memiliki jaringan parenkim yang mengandung klorofil. Selain klorofil, pada daun terdapat kloroplas (sel pembentuk klorofil), epidermis, dan berkas pembuluh angkut (xilem dan floem). Pada irisan melintang, susunan daun dari bagian atas ke bawah terdiri atas epidermis atas, mesofil, berkas pembuluh angkut, dan epidermis bawah (Gambar 5).

 

 

Jaringan pada daun

Gambar 5 Jaringan pada daun

 

Lapisan pertama pada daun yang melindungi lapisan lainnya adalah epidermis. Jaringan epidermis daun hanya terdiri atas satu lapis sel yang terdapat di bagian atas dan bawah daun. Pada epidermis terdapat stomata yang berperan dalam pertukaran gas. Pada umumnya, stomata banyak ditemukan pada bagian bawah daun. Akan tetapi, pada tumbuhan air yang mengapung, seperti teratai, hanya memiliki stomata di permukaan atas daun. Kutikula pada daun dapat dilihat sebagai lapisan bening yang tahan air. Dengan bantuan mikroskop, pada permukaan daun dapat dilihat trikom dan rambut kelenjar. Trikom terdiri atas beberapa jenis, bentuknya sangat unik bergantung jenis tumbuhannya. Trikom juga merupakan modifikasi dari epidermis daun.

Mesofil mengisi bagian tengah daun. Pada umumnya, mesofil diisi oleh jaringan parenkim. Berdasarkan susunannya, bagian mesofil ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu mesofil tiang dan mesofil bunga karang. Mesofil tiang (palisade) tersusun atas sel-sel parenkim berbentuk silinder yang tersusun rapat. Sel-sel parenkim tersebut memiliki klorofil. Pada umumnya, mesofil tiang hanya terdapat di bagian atas daun. Namun, beberapa jenis tumbuhan ada yang memiliki mesofil tiang di bagian atas dan bawah daun. Seperti mesofil tiang, sel-sel mesofil bunga karang (spons) juga memiliki klorofil. Mesofil bunga karang terbentuk dari sel-sel parenkim yang bercabang-cabang dengan susunan yang renggang. Dengan demikian, banyak terdapat ruang antarsel di mesofil bunga karang. Beberapa jenis daun mengeluarkan getah, beberapa yang lain mengeluarkan bau menyengat. Getah memiliki saluran tersendiri yang dibentuk oleh sel-sel yang tersusun menyerupai saluran di antara mesofil bunga karang. Beberapa sel khusus, menyimpan bahan sekresi dalam vakuolanya. Oleh karena itu, ketika selnya terganggu atau rusak ketika dipetik, vakuola akan pecah dan isinya keluar.

 

  1. Bunga

Pada tumbuhan, bunga hanya muncul pada fase-fase tertentu, yaitu pada fase di mana tumbuhan akan memulai perkembangbiakan (fase reproduksi). Buah merupakan organ tumbuhan yang terbentuk setelah bunga mengalami proses penyerbukan. Dengan demikian, organ bunga dan buah disebut pula sebagai organ tambahan. Bunga sebenarnya merupakan hasil dari modifikasi batang, sedangkan buah berasal dari bakal buah yang terdapat pada bunga dan telah mengalami pembuahan.

Morfologi bunga pada tumbuhan tinggi terdiri atas mahkota bunga, kelopak bunga, putik, dan benang sari. Berdasarkan ada tidaknya salah satu bagian pembentuk bunga tersebut, bunga dibagi menjadi lima, yaitu bunga lengkap, bunga sempurna, bunga jantan, bunga betina, dan bunga telanjang. Bunga lengkap adalah bunga yang memiliki semua kelengkapan bunga, yaitu kelopak (calix), mahkota (corolla), benang sari (stamen), dan putik. Bunga sempurna adalah bunga yang selalu memiliki benang sari dan putik, tetapi

kadang-kadang terdapat calix dan mahkota (Gambar 6). Bunga jantan, memiliki ketiga bagian bunga, yaitu kelopak, mahkota, dan benang sari. Namun, bunga tipe ini tidak memiliki putik. Sementara itu, bunga betina merupakan kebalikan dari tipe bunga jantan. Pada tipe bunga betina tidak terdapat benang sari, tetapi memiliki ketiga bagian lainnya. Bunga telanjang adalah bunga yang hanya memiliki benang sari dan putik, tetapi tidak memiliki calix dan corolla. Untuk memahami uraian tentang bunga, coba Anda perhatikan dengan saksama struktur bunga sempurna berikut, yang memperlihatkan seluruh morfologinya, yaitu kelopak, mahkota, benang sari, dan putik.

Struktur bunga sempurna

Gambar 6 Struktur bunga sempurna

 

 

Sumber:

Bakhtiar S. Biologi. 2011. Jakarta: Pusat Kurikulum dan Pembukuan Kementrian Pendidikan Nasional.

Ferdinand F, Ariebowo. 2009. Praktis Belajar Biologi 2. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Firmansyah R, Mawardi A, Riandi U. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 2. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Penjelasan Singkat Permenhut P.68/Menhut-II/2011

Permenhut 68-2011
Ilustrasi

Pada tanggal 21 Desember 2011 Permenhut P.38 tahun 2009 telah direvisi menjadi Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P. 68/Menhut-II/2011 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.38/Menhut-II/2009 Tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin atau pada Hutan Hak. Pasal – pasal yang direvisi di Permenhut P.38/Menhut-II/2009 antara lain pasal 1, 2, 4, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 14, 18, dan pasal 19.

Pada pasal 1 ayat 1 yang dikatakan pemegang izin adalah pemegang IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, IUPHHK-HTR, IUPHHK-RE, IUPHHK-HKm, IUPHHK-HD, IUPHHK-HTR, IPK, IUIPHHK, IUI atau TDI, termasuk industri rumah tangga/pengrajin dan pedagang ekspor. Perubahan pada pasal 1 ayat 1 ini ada penambahan lingkup pemegang izin yaitu industri rumah tangga/pengrajin dan pedagang ekspor.

Izin Usaha Industri (IUI) merupakan izin usaha industri pengolahan kayu lanjutan yang memiliki nilai investasi perusahaan seluruhnya di atas Rp. 200.000.000,-, tidak termasuk tanah dan bangunan usaha. Sedangkan Tanda Daftar Industri (TDI) adalah izin usaha industri pengolahan kayu lanjutan yang memiliki nilai investasi perusahaan seluruhnya sampai dengan Rp. 200.000.000,-, tidak termasuk tanah dan bangunan usaha.

Penilaian kinerja PHPL dan verifikasi LK dilakukan oleh LV&PI sesuai dengan standard Penilaian Kinerja PHPL dan Standard Verifikasi Legalitas Kayu (Perubahan Pasal 2).

Pasal 4 menyatakan:

  • Pemegang IUPHHK-HA/HT/RE dan pemegang hak pengelolaan WAJIB mendapatkan S-PHPL.
  • Dalam hal Pemegang IUPHHK-HA/HT/RE dan pemegang hak pengelolaan yang belum mendapatkan S-PHPL maka WAJIB mendapatkan S-LK.
  • Pemegang IUPHHK-HKm/HTR/HD/HTHR/IPK dan pemilik Hutan Hak WAJIB mendapatkan S-LK.
  • Pemegang IUIPHHK, IUI dan TDI WAJIB mendapatkan S-LK.
  • Pemegang IUPHHK-HA/HT/RE dan pemegang hak pengelolaan yang telah memiliki S-PHPL tidak perlu mendapatkan S-LK.
  • Terhadap pemegang IPK atau IUPHHK-HTHR diwajibkan untuk memiliki S-LK segera setelah diterbitkannya persetujuan Bagan Kerja.
  • Pemegang IUPHHK-HA/HT/RE dan pemegang hak pengelolaan yang telah memiliki S-PHPL skema sukarela (voluntary) tetap WAJIB mendapatkan S-LK.
  • Pemilik Hutan Hak yang telah memiliki sertifikat pengelolaan hutan lestari skema sukarela (voluntary) tidak wajib mendapatkan S-LK.
  • Pemegang IUIPHHK, IUI atau TDI yang telah memiliki sertifikat lacak balak skema sukarela (voluntary) WAJIB mendapatkan S-LK.

Pemegang IUPHHK-HTR, IUPHHK-HKm, IUPHHK-HD, IUIPHHK, IUI atau TDI, termasuk industri rumah tangga/pengrajin dan pedagang ekspor atau pemilik hutan hak, dapat mengajukan verifikasi LK secara kolektif apabila produksinya kurang dari 2000 m3 per tahun (Permenhut P.68/Menhut-II/2011 pasal 7).

Pemegang izin, pemegang hak pengelolaan atau pemilik hutan hak yang telah mendapatkan sertifikat PHPL atau sertifikat LK, berhak membubuhkan Tanda V-Legal (Permenhut P.68/Menhut-II/2011 pasal 10 ayat 9). Sertifikat PHPL atau Sertifikat LK yang telah diterbitkan sebelum berlakunya Permenhut P.68/Menhut-II/2011, tetap berlaku sampai dengan berakhirnya masa berlaku sertifikat. Terhadap IUPHHK-HA, IUPHHK-HT, IUPHHK-RE, pemegang hak pengelolaan atau IUIPHHK diwajibkan untuk memiliki Sertifikat PHPL atau Sertifikat LK selambat-lambatnya 1 (satu) tahun terhitung sejak diberlakukannya Permenhut P.68/Menhut-II/2011. Terhadap IUI dan TDI, termasuk industri rumah tangga/pengrajin dan pedagang ekspor diwajibkan untuk memiliki S-LK selambat-lambatnya 2 (dua) tahun terhitung sejak diberlakukannya Permenhut P.68/Menhut-II/2011.

 

 

Sumber:
Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.38/Menhut-II/2009 Tentang Standard dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin atau pada Hutan 12 Juni 2009.

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P. 68/Menhut-II/2011 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.38/Menhut-II/2009 Tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin atau pada Hutan Hak tanggal 21 Desember 2011.

Penjelasan Singkat Permenhut P.42/Menhut-II/2013

Ilustrasi
Ilustrasi

Penjelasan Singkat Permenhut P.42/Menhut-II/2013 bertujuan untuk membantu masyarakat memahami peraturan tersebut. Permenhut P.42/Menhut-II/2013 ditetapkan di Jakarta pada tanggal 16 Agustus 2013 oleh Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan.

Permenhut P.42/Menhut-II/2013 merupakan revisi ketiga dari Permenhut P.38/Menhut-II/2009. Beberapa ketentuan dalam Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.38/Menhut-II/2009 sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.42/Menhut-II/2013 diubah menjadi sebagai berikut:

Ketentuan Pasal 4 ayat (3) Permenhut P.45/Menhut-II/2012 diubah menjadi “Pemegang IUPHHK-HKm, IUPHHK-HTR, IUPHHK-HD, IUPHHK-HTHR, IPK, TPT, dan pemilik hutan hak wajib mendapatkan S-LK.” Dalam pasal tersebut ada penambahan pemegang izin yang wajib mendapatkan S-LK adalah Pemilik Hutan Hak.

Ketentuan Pasal 7 ayat (5) Permenhut P.45/Menhut-II/2012 diubah sehingga berbunyi “Pemegang IUPHHK-HTR, IUPHHK-HKm, IUPHHK-HD, IUIPHHK dengan kapasitas sampai dengan 2.000 M3 per tahun, TDI, IUI dengan modal investasi sampai dengan Rp500.000.000.- (lima ratus juta rupiah) di luar tanah dan bangunan, termasuk industri rumah tangga/pengrajin dan pedagang ekspor, dan pemilik hutan hak dapat mengajukan verifikasi LK secara berkelompok (group certification)”. Dalam Pasal 7 ayat (5) menyatakan bahwa Pemilik Hutan Hak juga dapat mengajukan verifikasi legalitas kayu secara berkelompok.

Pasal 10 ayat (4) dan ayat (6) Permenhut P.45/Menhut-II/2012 diubah, sehingga berbunyi sebagai berikut :

(4) Sertifikat LK bagi pemegang IUPHHK-HA/HT/RE/Pemegang hak pengelolaan, IUPHHK-HTR/HKM/HD/HTHR/IPK, IUIPHHK, IUI dengan modal investasi lebih dari Rp500.000.000.- (lima ratus juta rupiah) di luar tanah dan bangunan, dan TPT berlaku selama 3 (tiga) tahun sejak diterbitkan dan dilakukan penilikan (surveillance) sekurang-kurangnya 12 bulan sekali.

(6) Sertifikat LK bagi IUI dengan investasi sampai dengan Rp500.000.000.- (lima ratus juta rupiah) di luar tanah dan bangunan, TDI dan industri rumah tangga/pengrajin dan pedagang ekspor berlaku selama 6 (enam) tahun sejak diterbitkan dan dilakukan penilikan (surveillance) sekurang-kurangnya 24 bulan sekali.

Pasal 18 ayat (2) diubah dan diantara ayat (3) dan (4) disisipkan 1 ayat baru yaitu (3a) pada Permenhut P.45/Menhut-II/2012, sehingga menjadi:

(2) Terhadap pemegang IUPHHK-HA/HT/RE, pemegang hak pengelolaan diwajibkan untuk memiliki S-PHPL atau SLK selambat-lambatnya tanggal 31 Desember 2013.

(3a) Kewajiban memiliki SLK bagi IUPHHK-HA/HT yang izinnya kurang dari 5 tahun adalah pada saat sudah berproduksi dan dipasarkan.

Ketentuan Pasal 19 A Permenhut P.45/Menhut-II/2012 dihapus.

Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan pada 16 Agustus 2013.

 

 

 

Sumber:

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.38/Menhut-II/2009 Tentang Standard dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin atau pada Hutan 12 Juni 2009.

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P. 68/Menhut-II/2011 Tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.38/Menhut-II/2009 Tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin atau pada Hutan Hak tanggal 21 Desember 2011.

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.45/Menhut-II/2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.38/Menhut-II/2009 Tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin Atau pada Hutan Hak tanggal 14 Desember 2012

Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: P.42/Menhut-II/2013 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.38/Menhut-II/2009 Tentang Standar dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin Atau pada Hutan Hak tanggal 16 Agustus 2013