24 LVLK siap menerbitkan dokumen V-legal 2019

24 LVLK siap menerbitkan dokumen V-legal 2019 – Sudah delapan tahun lebih indonesia telah menerapkan system verifikasi legalitas kayu sesuai dengan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.30/MenLHK/Setjen/PHPL.3/3/2016 tentang Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin, Hak Pengelolaan, atau pada Hutan Hak.

Sebagai perusahaan eksportir produk kehutanan, syarat utama supaya bisa melakukan ekspor produk kehutanan harus dilengkapi dengan dokumen V-legal sesuai dengan:

  1. Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 84/M-DAG/PER/12/16 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan
  2. Peraturan Menteri Perdagangan No 12/MD-DAG/PER/2/2017 tentang Perubahan Peraturan Menteri Perdagangan No 84/M-DAG/PER/12/2016 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan
  3. Peraturan Menteri Perdagangan Republik Indonesia Nomor 38/M-DAG/PER/6/2017 tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 84/M-DAG/PER/ 12/2016 tentang Ketentuan Ekspor Produk Industri Kehutanan

Tabel dibawah ini merupakan daftar 24 LVLK siap menerbitkan dokumen V-legal 2019.

No Nama Alamat Kantor Pusat No. LVLK Status
1 PT. BRIK QUALITY SERVICES GEDUNG MANGGALA WANABAKTI BLOK IV LANTAI 8-WING C JL. GATOT SUBROTO, SENAYAN, DKI JAKARTA 10270 LVLK-001-IDN Aktif
2 PT. SUCOFINDO INTERNATIONAL CERTIFICATION SERVICES GRAHA SUCOFINDO LANTAI B1, JL. RAYA PASAR MINGGU KAV. 34 JAKARTA SELATAN 12780 LVLK-002-IDN Aktif
3 PT. MUTUAGUNG LESTARI JL. RAYA BOGOR KM 33.5 NO. 19 CIMANGGIS, DEPOK 16953 JAWA BARAT LVLK-003-IDN Aktif
4 PT. MUTU HIJAU INDONESIA MANGGALA WANABAKTI BLDG, BLOK IV, 9TH FLOOR, ROOM 930 AC, JALAN JENDERAL GATOT SUBROTO, SENAYAN, DKI JAKARTA 10270 LVLK-004-IDN Aktif
5 PT. TUV RHEINLAND INDONESIA MENARA KARYA 10TH FLOOR JL. H.R. RASUNA SAID BLOCK X-5 KAV. 1-2 DKI JAKARTA 12950 LVLK-005-IDN Aktif
6 PT. EQUALITY INDONESIA JL. SUKARAJA NOMOR 72 DESA SUKARAJA KECAMATAN SUKARAJA KABUPATEN BOGOR PROVINSI JAWA BARAT 16710 LVLK-006-IDN Aktif
7 PT. SARBI INTERNATIONAL CERTIFICATION JL. TAMAN PAGELARAN NO. 2 LT. 2 CIOMAS, BOGOR LVLK-007-IDN Aktif
8 PT. SGS INDONESIA CILANDAK COMMERCIAL ESTATE #108C JL. RAYA CILANDAK KKO DKI JAKARTA 12560 INDONESIA LVLK-008-IDN Aktif
9 PT. TRANSTRA PERMADA KAMPUS INSTIPER, JL. PETUNG NO.2 PAPRINGAN, CATURTUNGGAL, DEPOK, SLEMAN DIY LVLK-009-IDN Aktif
10 PT. TRUSTINDO PRIMA KARYA GEDUNG DIKLAT APHI KALIMANTAN TIMUR LT. 1 JL. KESUMA BANGSA NO. 80 SAMARINDA 75121 LVLK-010-IDN Aktif
11 PT. AYAMARU SERTIFIKASI KOMPLEK RUKO BRAJA MUSTIKA B-11 LT. 1 JL. DR. SUMERU RT/RW 002/001, BOGOR BARAT – INDONESIA LVLK-011-IDN Aktif
12 PT. PCU INDONESIA GEDUNG AD PREMIER UNIT 5-6 LANTAI 8, JL. TB. SIMATUPANG NO. 05 KEL. RAGUNAN, KEC. PASAR MINGGU JAKARTA SELATAN INDONESIA LVLK-012-IDN Aktif
13 PT. GLOBAL RESOURCE CERTIFICATION KOMPLEK BATAN INDAH BLOK G-28, SERPONG, TANGERANG, BANTEN 15313 LVLK-013-IDN Aktif
14 PT. SCIENTIFIC CERTIFICATION SYSTEM INDONESIA MAYAPADA TOWER LT. 11, JL. JENDERAL SUDIRMAN KAVLING 28, JAKARTA SELATAN 12920 LVLK-014-IDN Aktif
15 PT. LAMBODJA SERTIFIKASI JL. TERATAI VIII NO. 1, TAMAN YASMIN SEKTOR II, KOTA BOGOR, JAWA BARAT LVLK-015-IDN Aktif
16 PT. INTISHAR SADIRA ESHAN GEDUNG MANGGALA WANABAKTI BLOK IV LT. 5 WING A JAKARTA 10270 TELEPON (021) 57902938 LVLK-016-IDN Aktif
17 PT. MANDIRI MUTU SERTIFIKASI JL. H. ACHMAD ADNAWIJAYA BLOK B1 NO. 10 BOGOR JAWA BARAT LVLK-017-IDN Aktif
18 PT. NUSA KELOLA LESTARI JL. KH. SOLEH ISKANDAR KM 4 TANAH SEREAL BOGOR JAWA BARAT 16166 TELP. 0251 8068001 LVLK-018-IDN Tidak Aktif
19 PT. INTI MULTIMA SERTIFIKASI JL. CIREMAI RAYA BLOK BC NO. 231 KAYURINGIN JAYA, KOTA BEKASI TELP 021-8844934 LVLK-019-IDN Aktif
20 PT. KREASI PRIMA SERTIFIKASI SARUA MAKMUR BLOK IV NO.7 SARUA- CIPUTAT TANGERANG SELATAN LVLK-020-IDN Aktif
21 PT. ALMASENTRA SERTIFIKASI ROYAL SPRING BUSINESS PARK-10 JL. RAGUNAN RAYA NO. 29 A, JATI PADANG, PASAR MINGGU, JAKARTA SELATAN 12540 TELP. (021)78838341-42 FAX. (021) 78838339 LVLK-021-IDN Aktif
22 PT. TRIFOS INTERNASIONAL SERTIFIKASI (TRIC) VILLA SETURAN INDAH KAVLING C-2, CATUR TUNGGAL, DEPOK, SLEMAN, YOGYAKARTA LVLK-022-IDN Aktif
23 PT. BORNEO WANAJAYA INDONESIA JL. ADONIS SAMAD NO. 101 RT. 04/RW. 08 KELURAHAN PANARUNG, KECAMATAN PAHANDUT, PALANGKARAYA, KALIMANTAN TENGAH LVLK-023-IDN Aktif
24 PT. GARDA MUTU PRIMA BUKIT CIMANGGU CITY, BLOK R2A NO.4, KOTA BOGOR LVLK-024-IDN Aktif
25 PT INTEGRITAS PERSADA SERTIFIKASI KOMP. MULTIWAHANA JALAN ARJUNA II BLOK J4 NO.19, PALEMBANG, SUMATERA SELATAN 30163 LVLK-025-IDN Aktif

Berdasarkan data table di atas, terdapat satu (1) LVLK yang tidak aktif yaitu PT Nusa Kelola Lestari.

Apa Itu Acacia mangium?

Acacia mangium disebut juga dengan nama mangium termasuk ke dalan jenis Legum. A. mangium merupakan tanaman yang mudah tumbuh dengan pertumbuhan pohonnya yang cepat, tidak memerlukan banyak persyarat untuk tumbuh serta dapat tumbuh pada berbagai jenis tanah dan lingkungan karena tanaman ini mempunyai kemampuan adaptasi dan toleransi yang tinggi. Kayu A. mangium memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena mempunyai kualitas kayu yang baik.

Luas areal hutan tanaman mangium di Indonesia dilaporkan mencapai 67% dari total luas areal hutan tanaman mangium di dunia. Sekitar 80% dari areal hutan tanaman di Indonesia yang dikelola oleh perusahaan negara dan swasta terdiri dari mangium. Sekitar 1,3 juta ha hutan tanaman mangium telah dibangun di Indonesia untuk tujuan produksi kayu pulp. A. mangium juga diusahakan oleh rakyat (petani) dalam skala kecil. Provinsi JawaTengah dan Jawa Timur merupakan provinsi dengan jumlah tanaman mangium rakyat tertinggi mencakup lebih dari 40% total jumlah tanaman A. mangium yang diusahakan oleh rakyat di Indonesia.

Taksonomi dari A. mangium antara lain: sub famili Mimosoideae, famili Leguminosae, ordo Rosale dan spesies Acacia mangium. Pohon A. mangium pada umumnya besar dan dapat mencapai ketinggian 30 m, dengan batang bebas cabang lurus yang dapat mencapai lebih dari setengah total tinggi pohon. Umur 9 tahun pohon A. mangium dapat mencapai tinggi 23 meter dengan rata-rata kenaikan diameter 2-3 meter dengan hasil produksi 415 m3/ha atau rata-rata 46 m3/ha/tahun pada lahan yang baik. Pada lahan yang ditumbuhi alang-alang pohon A. mangium umur 13 tahun dapat mencapai tinggi 25 meter dengan diameter rata-rata 27 cm serta hasil produksi rata-rata 20 m3/ha/tahun. Pohon yang masih muda umumnya berkulit mulus dan berwarna kehijauan, celah-celah pada kulit mulai terlihat pada umur 2-3 tahun (Gambar 1). Pohon yang tua biasanya berkulit kasar, keras, bercelah dekat pangkal, dan berwarna coklat sampai coklat tua (Gambar 2). Kayu A. mangium termasuk ke dalam kelas kuat III-IV, berat 0,56-0,60 dengan nilai kalori rata-rata antara 4800-4900 k.cal/kg.

kulit-pohon-acacia-mangium-muda
Sumber: Krisnawati et al. 2011

Gambar 1 Kulit pohon Acacia mangium muda

kulit-pohon-acacia-mangium-tua
Sumber: Krisnawati et al. 2011

Gambar 2 Kulit pohon Acacia mangium tua

Bunga A. mangium tersusun atas banyak bunga kecil berwarna putih atau krem seperti paku (Gambar 3). Bunga A. mangium menyerupai sikat botol pada saat mekar dengan aroma yang agak harum. Setelah pembuahan, bunga berkembang menjadi polong-polong hijau yang kemudian berubah menjadi buah masak berwarna coklat gelap (Gambar 4). Bijinya A. mangium berwarna hitam mengilap dengan bentuk bervariasi dari longitudinal, elips dan oval sampai lonjong berukuran 3-5 mm × 2-3 mm. Biji melekat pada polong dengan tangkai yang berwarna oranye-merah.

bentuk-bunga-a-mangium
Sumber: Krisnawati et al. 2011

 Gambar 3 Bentuk bunga A. mangium 

Anakan A. mangium yang baru berkecambah memiliki daun majemuk yang terdiri atas banyak anak daun (Gambar 5). Daun ini mirip dengan Albizia, Paraseanthes falcataria, Leucaena sp., dan jenis lain dari sub famili Mimosoideae. Meskipun demikian, setelah beberapa minggu daun majemuk ini tidak lagi terbentuk melainkan tangkai daun dan sumbu utama setiap daun majemuk tumbuh melebar dan berubah menjadi phyllode yang dikenal dengan daun semu. Phyllode ini berbentuk sederhana dengan tulang daun paralel dan dapat mencapai panjang 25 cm dan lebar 10 cm (Gambar 6).

bunga-a-mangium-yang-sudah-masak-berwarna-coklat-gelap
Sumber: Krisnawati et al. 2011

Gambar 4 Bunga A. mangium yang sudah masak berwarna coklat gelap

daun-a-mangium-anakan-juvenil
Sumber: Kallio 2011

Gambar 5 Daun A. mangium anakan (juvenil)

phyllode-a-mangium
Sumber: Krisnawati et al. 2011

Gambar 6 Phyllode A. mangium

 

 

 

 

Sumber:

Badan LITBANG Departemen Kehutanan. 1994. Pedoman Teknis Penataan Penanaman Jenis-Jenis Kayu Komersial. LITBANG Dephut.

[FAO] Food and Agriculture Organization. 2002. Tropical forest plantation areas 1995 data set by D. Pandey. Forest Plantations Working Paper 18. Forest Resources Development Service, Forest Resources Division. Italia: FAO.

Hall  N, Turnbull JW, Doran JC, Martenez PN. 1980. Acacia mangium. Dalam: Australian acacia series. CSIRO Forest Research Leaflet 9. Australia: Commonwealth Scientific and Industrial Research Organisation.

Krisnawati H, Kallio M, Kanninen M. 2011. Acacia mangium Willd: Ekologi, Silvikultur dan Produktivitas. Bogor: CIFOR.

National Research Council. 1983. Mangium and other fast-growing Acacias for the humid tropics. Washington DC: National Academy Press.

Turnbull JW. 1986. Australian acacias in developing countries. Prosiding International Workshop held at the Forestry Training Centre, Gympie,

Queensland, Australia, 4–7 August 1986. Prosiding ACIAR No. 16. Australian Centre for International Agricultural Research, Canberra, Australia.

Keterkaitan Antara Erosi, Sedimentasi, Banjir Dengan Hutan

banjir
Sumber: http://global.liputan6.com

Permasalahan erosi dan sedimentasi dalam suatu daerah aliran sungai biasanya berkaitan dengan masalah banjir. Keduanya saling berhubungan erat dan pengaruh keduanya dapat saling memberatkan serta berdampak negatif terhadap pengelolaan DAS (daerah aliran sungai). Salah satu akibat dari turunnya hujan lebat adalah terjadinya erosi. Selanjutnya, erosi tersebut akan menghasilkan sedimen yang akan mengalami sedimentasi pada dasar sungai, saluran air atau waduk. Sedimentasi akan menyebabkan pendangkalan yang selanjutnya akan menaikkan permukaan air ketika terjadi banjir. Sebaliknya, banjir dapat mengikis sungai dan dataran banjir, mengangkut sedimen, dan memindahkannya ke arah hilir sehingga menimbulkan kerugian.

Material tanah memiliki ketahanan terhadap erosi sangat berbeda-beda. Demikian juga, kekuatan air hujan dan limpasan permukaan sangat berbeda-beda dalam mengerosi tanah.  Kepekaan tanah terhadap erosi (erodibilitas) merupakan ciri-ciri dari bahan yang terkena erosi (seperti tanah atau bebatuan) yang berhubungan dengan kepekaannya terhadap kekuatan-kekuatan yang mampu mengerosi. Misalnya, pasir lebih besar erodibiltasnya dibandingkan dengan tanah liat. Daya mengerosi (erosivitas) merupakan ciri dari kekuatan-kekuatan yang mampu mengerosi, seperti air hujan dan limpasan permukaan. Bahaya erosi menggambarkan derajat potensi erosi di suatu daerah dan mencerminkan efek gabungan dari erosivitas dan erodibilitas. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi bahaya erosi, yaitu:

  1. Erosivitas air hujan, misalnya intensitas maksimum selama 30 menit
  2. Erodibilitas tanah, misalnya sifat adesif dan kohesif material tanah
  3. Keadaan penutup tanah selama setahun
  4. Kemiringan dan panjang lereng

Konservasi tanah dapat mengurangi erosi dan dapat dalam membangun kembali kesuburan tanah. Konservasi tanah terutama dapat mengurangi kerusakan tanaman pertanian yang diakibatkan oleh banjir dan dapat mengurangi jumlah muatan sedimen yang dibawa oleh sungai. Beberapa praktek konservasi tanah yang lazim dilakukan antara lain: contour cultivication, strip cropping, contour terracing, grass waterways, basing listing, deep subsoiling dan kontrol vegetasi.

Semua cara tersebut di atas tidak akan berhasil tanpa penanaman dan pemupukan untuk memelihara tanaman. Hutan, semak-semak, dan rumput-rumput sangat efektif dalam mengontrol aliran permukaan ataupun erosi. Penanaman pohon-pohon hutan lebih disukai karena dapat melindungi tanah terhadap penggebalaan panenan hasil-hasil pertanian yang terlalu sering.

Para rimbawan dan ahli konservasi tanah ada yang berpendapat bahwa tanah-tanah yang tertutup hutan tidak akan menimbulkan banjir. Banjir yang berukuran kecil memang dapat terjadi, tetapi banjir yang besar hanya akan memiliki pengaruh yang relatif kecil. Hutan memegang peranan penting dalam meredusir volume aliran air dan besarnya debit sungai pada saat banjir. Terdapat tiga pengaruh hutan yang penting sebagai berikut:

  1. Hutan menahan tanah di tempatnya

Akar-akar dan perdu berfungsi sebagai pengikat tanah pada tanah-tanah yang miring dan mencegah longsor sesudah terjadi hujan lebat atau kebakaran besar.

  1. Tanah hutan menyimpan air tanah lebih banyak

Evapotranspirasi hutan cukup besar, terutama pada tipe-tipe tumbuhan penutup tanah, sehingga lapisan tanah di bawah tegakannya hutan sering kali mengandung air lebih sedikit. Apabila terjadi hujan yang lebat, maka bagian terbesar dari aliran permukaan akan ditahan dalam bentuk air tanah sehingga volume aliran air langsung mengalir di bawah tegakan hutan akan berkurang, akibatnya tinggi air banjir di hilir sungai akan jauh berkurang

  1. Hutan menyebabkan tingginya laju infiltrasi

Perakaran pohon dan vegetasi hutan lainnya akan ikut menjaga porositas tanah tetap tinggi, sehingga infiltrasi dan perkolasi air hujan dapat berlangsung baik.

 

Sumber:

Arief A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Fungsi Hutan Sebagai Pelindung

hutan

Suatu kawasan lindungi ditetapkan oleh negara karena berfungsi menjaga lingkungan hidup, terutama demi kepentingan manusia. Saat ini terdapat 425 juta lahan di sekitar 3.500 daerah di seluruh dunia yang mendapat perlindungan negara demi kelangsungan dan terhindarnya kepunahan makhluk hidup. Program manusia dan biosfer UNESCO bertujuan untuk mengurus jaringan global dari 252 cagar biosfer di 66 negara. Tempat-tempat tersebut telah dipilih sebagai perlindungan dari contoh mintakat atau zona ekologi bumi yang masih utuh dengan sebutan provinsi biogeografi dan untuk memadukan pengawetannya dengan kebutuhan ekonomi masyarakat setempat.

Indonesia sendiri telah menjamin keberadaan, kemurnian, dan kekhasan setiap tipe ekosistem dan gejala alam lainnya dengan menetapkan beberapa kawasan konservasi yang jumlahnya 30,4 juta hektar (27% dari luas seluruh kawasan hutan yang ada). Sampai awal tahun 1999, telah ditunjuk atau ditetapkan sebanyak 389 lokasi kawasan konservasi dengan luas sekitar 22,3 juta hektar yang terdiri atas 17,8 juta hektar daratan dan 4,5 juta hektar kawasan perairan. Kawasan tersebut tersebar di seluruh provinsi yang saat ini pengelolaannya hanya bertujuan sebatas pengamanan dan penggunaan untuk tujuan non-konservasi. Namun, sesuai dengan asas pelestarian dan pemanfaatan yang lestari, perlakuan terhadap kawasan konservasi yang hanya demi pengamanan dinilai kurang bijaksana untuk memberikan manfaat secara optimal tanpa mengurangi fungsinya. Luas kawasan tersebut terdiri atas cagar alam, suaka margasatwa, taman wisata, taman baru, taman nasional dan taman laut. Khusus untuk kawasan konservasi telah ditetapkan beberapa kawasan antara lain: Taman Nasional Gunung Lauser, taman Nasional Ujung Kulon, Taman Nasional Bukit Barisan, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Balurah, Taman Nasional Bali, dan Taman Nasional Komodo.

Hutan yang berfungsi sebagai pelindung (hutan lindung) merupakan kawasan yang keadaan alamnya diperuntukkan sebagai pengaturan tata air, pencegah banjir, pencegah erosi, dan pemeliharaan kesuburan tanah. Hutan konservasi yaitu merupakan kawasan hutan dengan ciri khas tertentu mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Pohon yang tajuk-tajuknya saling menangui akan mampu menahan jatuhnya titik air hujan pada permukaan tanah. Dengan bantuan tumbuhan lantai hutan, serasah dan humus memiliki peranan yang sangat penting bahkan lebih penting daripada tegakan pohon itu sendiri. Hal ini disebabkan karena tumbuhan bawah, serasah, dan humus sangat menentukan permeabilitas tanah dalam menyerap air yang jatuh dari tajuk pohon serta akan mencegah laju aliran air permukaan, sehingga terserap oleh tanah.

Pembuktian bahwa pohon-pohon menyerap air seperti di Taiwan dengan menebang habis pada tahun pertama terjadi kenaikan air di musim kemarau sebesar 108% dan kenaikan hasil air tahunan sebanyak 650 mm pada tebang habis 100% di Selandia baru. Sedangkan penebangan sebesar 75% bahkan hanya 50% mampu meningkatkan air sebanyak 540 mm dan 200 mm. Berdasarkan keterangan tersebut dapat disimpulkan bahwa pengurangan luas hutan akan menambah aliran air dan juga sebaliknya. Hutan dapat mengurangi air karena penyerapan dan disimpan oleh vegetasi serta dikeluarkan sebagian dalam proses evapotranspirasi.

 

Sumber:

Arief A. 2001. Hutan dan Kehutanan. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Manfaat Gaharu

Gaharu merupakan salah satu komoditi hasil hutan bukan kayu yang mempunyai nilai ekonomi tinggi, karena kayunya mengandung resin yang harum. Gaharu dihasilkan dari tanaman hutan yang mengalami pelapukan sebagai akibat infeksi jamur sehingga menghasilkan gubal yang mengandung dammar wangi (aromatik resin). Resin berbentuk gumpalan atau padatan berwarna coklat muda sampai coklat kehitaman yang terbentuk pada lapisan dalam dari jenis kayu tertentu sebagai reaksi dari infeksi atau luka. Resin dapat melindungi tanaman dari infeksi yang lebih besar, sehingga dapat dianggap sebagai sistem imun.

gaharu2
Sumber: (http://kayumulia.blogspot.com)

Gambar 1 Gaharu

Tanaman penghasil gaharu secara alami tumbuh di wilayah Asia Selatan dan Asia Tenggara. Beberapa nama diberikan pada gaharu, seperti agarwood, aloeswood, gaharu (Indonesia), ood, oudh, oodh (Arab), chenxiang (China), pau d’aquila (Portugis), bois d’aigle (Perancis), dan adlerholz (Jerman). Aquilaria merupakan tanaman penghasil gaharu yang saat ini menjadi jenis yang dilindungi di banyak negara dan eksploitasi gaharu dari hutan alam dianggap sebagai kegiatan illegal. Adapaun tanaman penghasil gaharu dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Tanaman penghasil gaharu

No.

Jenis Tanaman

Penyebaran

1. Aquilaria hirta Ridl. Terdapat di Semenanjung Malaya, Sumatera dan Bangka
2. A. crassna Pierr ex H. Lee Tersebar di Indo-China dan Thailand
3. A. malaccensis Lamk. Banyak tersebar di India, Burma, Malaysia, Jawa Barat, Kalimantan dan Philipina
4. A. beccariana van Tiegh. Banyak tersebar di Malaysia, Sumatera dan Kalimantan
5. Wikstroemia tenuiramis Miq. Banyak tersebar di Malaysia dan Kalimantan
6. W. Polyantha Merr. Banyak dijumpai di Malaysia, Jawa Barat dan Kalimantan
7. Enkleia malaccensis Griff. Dapat ditemukan di India, Burma, Semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan dan Philipina
8. Gonystylus bancanus Griff (Miq.) Kurz., G. Macropyllus (Miq.) Airy Show., Aetoxylon sympetalum (Steen & Domke) Airy Show, Girinops verstegii Lombok, Malaya, Sumbawa, NTT, Sulawesi dan Irian

 

Baca juga mengenai: Produk Kayu Olahan Di Indonesia

Permintaan terhadap gubal gaharu di dunia semakin meningkat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk disertai dengan meningkatnya kesejahteraan hidup, perubahan gaya hidup dan didukung oleh kemajuan iptek. Bersamaan dengan itu, ekspor gaharu di Indonesia juga mengalami peningkatan yang pesat. Menurut data BPS ekspor gaharu di Indonesia dalam lima tahun terakhir meningkat rata-rata 51%. Negara tujuan ekspor gaharu antara lain Singapura, Saudi Arabia, Taiwan, Uni Emirat Arab, India, Hongkong dan Jepang.

Gaharu memiliki banyak manfaat diantaranya yaitu dapat digunakan sebagai bahan parfum, obat-obatan, kosmetik, dupa, hio dan setanggi. Manfaat gaharu sebagai obat-obatan sangat beragam antara lain: sebagai antiasmatik, antimikroba, stimulan kerja syaraf dan pencernaan. Segi etnobotani di Cina, gaharu digunakan sebagai obat sakit perut, Aphrodisiac (perangsang nafsu birahi), anodyne (penghilang rasa sakit), kanker, diare, tersedak, ginjal, tumor dan paru-paru. Eropa juga menggunakan gaharu sebagai obat kanker, sedangkan di India gaharu digunakan untuk obat tumor usus. Kasiat gaharu untuk berbagai macam obat disebabkan karena gaharu mengandung 17 macam senyawa antara lain: 3,4-dihydroxydihydroagarufuran, agaros-pirol, p-methoxybenzylacetone, aquillochin dan noroxoagarufuran.

Selain produk gubal, bagian lain dari pohon gaharu seperti daun dan buah diyakini oleh masyarakat sasak berkhasiat sebagai obat malaria. Selain itu, kulit kayu yang memiliki serat dapat dibuat talitemali atau produk kerajinan lainnya yang cukup berharga.

Baca juga mengenai: Klasifikasi Tumbuhan Kayu

 

 

 

Sumber:

Anonim. 2012. Budidaya Gaharu, Satu Pohon Hasilkan Puluhan Juta. http://kayumulia.blogspot.com/2012/03/budidaya-gaharu-satu-pohoh-hasilkan.html [21 April 2014].

Baharuddin, Taskirawati I. 2009. Hasil Hutan Bukan Kayu. Makasar: Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin.

Moko H. 2008. Menggalakan Hasil Hutan Bukan Kayu Sebagai Produk Unggulan.

Informasi teknis 6(2), September 2008. Balai Besar Penelitian        Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.

Suharti S. 2009. Prospek Pengusahaan Gaharu Melalui Pola Pengelolaan Hutan Berbasis Masyarakat (PHBM). Info Hutan 7(2): 141-154.

Squidoo. 2008. Production and Market-ing of Cultivated Agarwood. http://www.squidoo. com/agarwood [3 November 2008].

 

 

 

 

Pengelompokan dan Kegunaan Kayu Lapis

kayu-lapis
Sumber: http://www.yorkshireplywood.co.uk

Industri kayu lapis di Indonesia mulai berkembang sekitar tahun 1980-an semenjak diberlakukannya larangan ekspor kayu bulat oleh pemerintah. Pada saat itu kondisi hutan Indonesia masih mampu dan mendukung untuk berkembangnya industri kayu lapis, karena ketersediaan log berdiameter besar dan selindris yang berasal dari hutan alam sebagai syarat utama untuk bahan baku kayu lapis masih banyak dan melimpah. Sedangkan saat ini, keberadaan bahan baku kayu lapis yang berkualitas di hutan alam semakin menurun dan ditambah lagi dengan kebutuhan kayu sebagai bahan baku saat ini di industri kayu lapis semakin meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk, terutama kebutuhan terhadap kayu bulat berdiameter besar. Hal ini dapat mengancam keberadaan industri kayu lapis di Indonesia. Kondisi hutam alam Indonesia tidak lagi mampu untuk menyediakan kayu berdiameter besar yang berkualitas karena terus menerus ditebang untuk memenuhi kebutuhan bahan baku di industri kayu khususnya kayu lapis.

Kondisi tersebut mendorong para ahli dan pelaku industri kayu lapis untuk melakukan efisiensi dan regulasi terhadap bahan baku (log) yang nantinya diperuntukkan sebagai pembuatan kayu lapis. Melalui perbaikan dan peningkatan teknologi telah berhasil meningkatkan rendemen vinir yang dihasilkan. Saat ini, log berdiameter besar tidak lagi menjadi syarat utama sebagai bahan baku pembuatan kayu lapis. Pemanfaatan log berdiameter kecil sudah dapat digunakan untuk bahan baku pembuatan kayu lapis karena industri kayu lapis telah menggunakan spindles. Penggunaan spindles mampu meminimalisir diameter log yang tersisa setelah proses pengupasan dimana pada saat menggunakan metode konvensional tanpa spindles, diameter log sisa sekitar 15-20 cm telah dapat dikurangi menjadi 5 cm sehingga hal ini berakibat pada peningkatan rendemen vinir yang dihasilkan.

Kayu lapis dapat dibagi menjadi beberapa kelompok diantaranya yaitu pengelompokan kayu berdasarkan jenis perekatnya, pengelompokan kayu berdasarkan permukaan vinirnya dan pengelompokan kayu lapis berdasarkan penggunaannya. Pengelompokan kayu lapis berdasarkan jenis perekat yang digunakan dapat dibagi menjadi dua yaitu:

1. Perekat untuk kayu lapis interior

Kayu lapis interior merupakan kayu lapis yang penggunaannya di dalam ruangan. Kayu lapis interior tidak langsung terpapar dengan lingkungan luar ruangan seperti sinar matahari, hujan, udara lembab dan suhu yang berubah-ubah, sehingga perekat yang digunakan yaitu moisture resistance atau perekat interior seperti urea formaldehyde (UF), melamin formaldehyde (MF) dan melamin urea formaldehyde (MUF).

2. Perekat untuk kayu lapis ekterior

Kayu lapis ekterior merupakan kayu lapis yang penggunaannya di luar ruangan sehingga dapat terpapar langsung dengan kondisi lingkungan luar ruangan, sehingga harus tahan terhadap cuaca luar yang berubah-ubah seperti kelembaban dan suhu. Kayu lapis ekterior sangat memerlukan perekat yang bersifat waterproof. Perekat yang biasa digunakan yaitu perekat eksterior seperti phenol formaldehyde (PF).

Berdasarkan permukaan vinir, kayu lapis dikelompokkan menjadi dua sebagai berikut:

1. Ordinary plywood

Ordinary plywood merupakan kayu lapis dengan permukaan vinirnya dihasilkan dari proses rotary cutting

ordinary-playwood2
Sumber: http://multigunawood.com

 

Gambar 1 Ordinary playwood

2. Fancy plywood

Fancy plywood merupakan kayu lapis dengan permukaan vinirnya terbuat dari kayu-kayu indah dan dihasilkan dari proses slice cutting atau half rotary cutting

fancy-playwood
Sumber: http://www.hasdimustika.com

Gambar 2 Fancy playwood

Baca juga mengenai: Kayu Lapis Struktural

Pengelompokan kayu lapis berdasarkan penggunaannya dibagi menjadi dua yaitu: (a) Kayu lapis interior. Kayu lapis interior didasarkan pada ketahanan kayu lapis terhadap udara dan cuaca di sekitarnya. Ketahanan ini tergantung dari mutu vinir dan kekuatan atau kualitas perekat yang digunakan. Kayu lapis interior digunakan di dalam ruangan sehingga terlindung  dari sinar matahari, hujan, udara lembab dan suhu yang berubah-ubah; (b) Kayu lapis ekterior merupakan kayu lapis yang digunakan di luar ruangan sehingga harus tahan terhadap pengaruh buruk dari lingkungan luar. Selain itu, kayu lapis harus dapat menahan serangan jamur dan serangga dengan melarutkan bahan pengawet pada bahan perekat. Menurut Youngquis (1999) kayu lapis berdasarkan penggunaan dibagi menjadi kayu lapis konstruksi dan industrial, kayu lapis hardwood dan dekoratif.

Keunggulan dari kayu lapis dibandingkan dengan kayu solid adalah dimensinya lebih stabil karena memiliki kembang susut pada arah memanjang dan melebar jauh lebih kecil, mempunyai ketahanan lebar besar terhadap belahan dan retakan, tidak pecah atau retak pada pinggirnya jika dipaku, ketangguhan tarik tegak lurus serat lebih besar, ringan dibandingkan luas permukaannya, memungkinkan penggunaan lembaran-lembaran papan yang lebih besar, memungkinkan untuk penggunaan lembaran-lembaran papan berbentuk kurva, bidang yang luas dapat ditutup dalam waktu yang singkat, kuat pegang sekrupnya relatif tinggi serta warna, tekstur dan serat dapat diseragamkan sehingga corak atau polanya bisa simetris.

Kayu lapis dapat digunakan untuk kontruksi bangunan seperti paneling (penyekat ruang, pintu, jendela), bahan pelapis, lantai, sidding (dinding), plyform. Selain itu, kayu lapis juga dapat digunakan untuk alat-alat transportasi seperti: pesawat terbang (pelapis dinding bagian dalam), kereta api (atap, lantai, dinding), truk dan trailer (pada body).

Baca juga mengenai: Hasil Hutan Bukan Kayu

 

 

 

 

 

Sumber:

Arsadi B. 2011. Kualitas Kayu Lapis dari Kayu Bulat Berdiameter Kecil Jenis Dadap (Erythrina variegata Lamk), Kemiri (Aleurites moluccana L. wild) dan Jengkol (Pithecellobin jiringa Benth. I.C. Nielsen). Bogor: Fakultas Kehutanan IPB

Iswanto AH. 2008. Kayu Lapis. Karya Tulis Departemen Kehutanan. Mendan: Fakultas Pertanian USU.

Massijaya MY. 2006. Playwood. Bahan Kuliah Ilmu dan Teknologi Kayu. Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan. Bogor: Sekolah Pascasarjana IPB.

Youngquist. 1999. Wood Based Composite and Panel Product. Wood Hand Book: Wood as An Engineering. USA

 

 

Pengertian Taman Nasional

Kali ini kita akan membahas mengenai pengertian Taman Nasional.

Taman Nasional
Gunung Bromo (http://jasling.net)

Indonesia merupakan Negara kepulauan yang memiliki beragam keanekaragaman baik flora maupun fauna. Untuk menjaga kelestarian flora dan fauna yang ada di Indonesia salah satunya dengan menetapkan taman nasional.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56/Menhut-II/2006, tanam nasional adalah kawasan pelestarian alam baik daratan maupun perairan yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.

Taman Nasional merupakan kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan system zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata dan rekreasi.

Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 108 tahun 2015 tentang perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 2011 tentang pengelolaan kawasan suaka alam dan kawasan pelestarian alam, Taman Nasional adalah KPA yang mempunyai Ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yang dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, pariwisata, dan rekreasi.

Sesuai dengan IUCN dalam kongresnya di New Delhi tahun 1969, disebutkan bahwa taman nasional adalah suatu kawasan yang sangat luas serta didalamnya terdapat:

  1. Satu atau lebih ekosistem yang keadaan serta fisiknya belum mengalami gangguan atau perubahan oleh manusia melalui eksploitasi atau pemanfaatan lainnya.
  2. Jenis-jenis satwa dan tumbuhan yang keadaan serta tempat dilihat dari segi morpologi mempunyai arti bagi kepentingan ilmu pengetahuan, kebudayaan, rekreasi serta pariwisata
  3. Keadaan alam yang mempunyai keindahan khusus, dan
  4. Diperkirakan dapat dimasuki oleh para pengunjung dengan ketentuan-ketentuan tertentu untuk tujuan pendidikan, kebudayaan, ilmu pengetahuan, rekreasi dan pariwisata.

Secara umum suatu kawasan dikatakan atau ditentukan menjadi taman nasional adalah kawasannya luas yang relative tidak terganggu, mempunyai nilai alam yang menonjol dengan kepentingan pelestarian yang tinggi, potensi rekseasi yang besar, mudah dicapai oleh pengunjung dan mempunyai manfaat yang jelas bagi wilayah yang bersangkutan.

Taman Nasional memiliki banyak manfaat diantaranya penyimpanan dan/atau penyerapan karbon, pemanfaatan air, energi air, angin, panas matahari, panas bumi, dan wisata alam.

Baca juga 6 Manfaat adanya Taman Nasional di Indonesia

Sesuai dengan data yang ada di Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi, jumlah taman Nasional yang ada di Indonesia ada 50 Taman Nasional yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Baca Juga: Taman Nasional yang ada di Indonesia

 

Referensi:

Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.56/Menhut-II/2006

Peraturan Pemerintah Nomor 108 tahun 2015

Direktorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi

16 Regulasi yang berkaitan dengan SVLK

Dasar hukum SVLK

Sistem Verifikasi Legalitas Kayu atau lebih dikenal dengan istilah SVLK sudah berjalan 7 (tujuh) tahun sampai dengan tahun ini 2016. SVLK pertama kali diberlakukan pada tahun 2009 dengan dikeluarkannya Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.38/Menhut-II/2009 tentang Standard dan Pedoman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin atau pada Hutan Hak.

Dengan berjalannnya waktu mulai dari tahun 2009 sampai dengan tahun 2016, terdapat beberapa kali perubahan dan penyesuaian peraturan yang terkait dengan SVLK. Berikut kami sajikan 16 regulasi yang berkaitan dengan SVLK antara lain:

  1. Perjanjian Kemitraan Sukarela antara Uni Eropa dan Republik Indonesia pada Penegakan Hukum Kehutanan, Tata Kelola dan Perdagangan di Timber Products ke Uni Eropa
  2. Amandemen Lampiran I, II, dan V untuk Perjanjian Kemitraan Sukarela antara Uni Eropa dan Republik Indonesia pada Penegakan Hukum Kehutanan, Tata Kelola dan Perdagangan produk kayu ke Uni Eropa
  3. Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor P.15/PHPL/PPHH/HPL.3/8/2016 Tentang Perubahan Atas Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor P.14/PHPL/SET/4/2016 Tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK)
  4. Peraturan Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor : P.14/PHPL/SET/4/2016 Tentang Standar Dan Pedoman Pelaksanaan Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari (PHPL) dan Verifikasi Legalitas Kayu (VLK)
  5. Surat Edaran Sekretaris Direktur Jenderal Pengelolaan Hutan Produksi Lestari Nomor : SE.2/SET/KV/7/2016 Tentang Pelaksanaan Pengumuman Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu
  6. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.30/MenLHK/Setjen/PHPL.3/3/2016 tentang Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu pada Pemegang Izin, Hak Pengelolaan, atau pada Hutan Hak
  7. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.46/Menlhk-Setjen/2015 tentang Pedoman Post Audit terhadap Pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dan Izin Pemanfaatan Kayu
  8. Surat Edaran Direktur PPHH Nomor S.152/PPHH/SPHH/PHPL.3/2/2016 tentang Pelaksanaan Audit VLK
  9. Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Nomor : P.5/VI-BPPHH/2013 tentang Pedoman Persetujuan Hak Akses atau Nota Kesepahaman dalam Penyediaan dan Pelayanan Informasi Verifikasi Legalitas Kayu Melalui Portal Sistem Informasi Legalitas Kayu (SILK)
  10. Surat Edaran Nomor SE.14/VI-BPPHH/2014 tentang Kewajiban Penerapan Sistem Verifikasi Legalitas Kayu (Sebagai Tindak Lanjut Permenhut Nomor P.43/Menhut-II/2014 jo. PermenLHK Nomor P.95/Menhut-II/2014)
  11. Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.96/Menhut-II/2014 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.13/Menhut-II/2013 tentang Standar Biaya Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu
  12. Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Nomor P.15/VI-BPPHH/2014 tentang Mekanisme Penetapan Lembaga Verifikasi Legalitas Kayu (LVLK) sebagai Penerbit Dokumen V-Legal
  13. Peraturan Direktur Jenderal Bina Usaha Kehutanan Nomor P.13/VI-BPPHH/2014 tentang Pedoman Sertifikasi Legalitas Kayu secara Berkelompok
  14. Peraturan Menteri Kehutanan Nomor : P.13/Menhut-II/2013 tentang Standar Biaya Penilaian Kinerja Pengelolaan Hutan Produksi Lestari dan Verifikasi Legalitas Kayu
  15. Surat Edaran Dirjen Bina Usaha Kehutanan No. SE.1/VI-BPPHH/2014
  16. Peraturan Menteri Kehutanan No. P.18 Tahun 2013 Tentang Informasi Verifikasi Legalitas Kayu Melalui Portal Sistem Informasi Legalitas Kayu (SILK) dan Penerbitan Dokumen V Legal

 

16 regulasi yang berkaitan dengan SVLK di atas yang harus diketahui. Dengan adanya SVLK, maka keterjaminan produk kayu yang berasal dari Indonesia tidak diragukan lagi karena produk kayu Indonesia sebagian besar sudah menerapkan SVLK.

Keanekaragaman Hewan Berdasarkan Persebarannya Di Indonesia

Persebaran geografi hewan (fauna) di kepulauan Indonesia secara keseluruhan ditentukan oleh faktor geologi yaitu Paparan Sunda dan Paparan Sahul. Persebaran hewan di Indonesia berdasarkan Paparan Sunda dan Paparan Sahul menjadi lebih jelas lagi dibandingkan dengan persebaran tumbuhan. Di sini dapat ditarik garis pemisah yang lebih jelas yang disebut garis Wallace (ditemukan oleh Alfred Russel Wallace). Beberapa jenis hewan, seperti ikan tawar dari kelompok timur dan barat persebarannya tidak pernah bertemu. Akan tetapi, ada pula hewan-hewan seperti burung, amphibia, dan reptilia yang sering kali antara persebaran kelompok timur (Paparan Sahul) dan barat (Paparan Sunda) saling tumpang-tindih. Paparan sunda sangat kaya akan berbagai jenis mamalia dan burung. Diperkirakan di kawasan ini terdapat ratusan jenis burung dan 70% di antaranya merupakan penghuni hutan primer darat. Keanekaragaman ini jauh lebih tinggi daripada di Afrika.

Menurut Wallace dan Weber, keanekaragaman hewan berdasarkan persebarannya di Indonesia dibagi menjadi tiga zona atau wilayah yaitu:

  • Zona orientalis (wilayah barat Indonesia) yang meliputi: Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan
  • Zona australis (wilayah timur Indonesia) yang meliputi: Maluku, Papua dan kepulauan Aru
  • Zona peralihan (wilayah tengah Indonesia) yang meliputi: Sulawesi dan Nusa Tenggara (Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur)

Artikel berikut ini akan menjelaskan mengenai keanekaragaman hewan berdasarkan persebarannya di Indonesia yang dibagi menjadi tiga zona atau wilayah yang telah dijelaskan sebelumnya.

1. Hewan di wilayah barat Indonesia (zona orientalis)

Hewan-hewan yang berada di wilayah ini memiliki kemiripan dengan yang terdapat di Benua Asia, tetapi tetap memiliki ciri khas yang hanya dimiliki oleh hewan Indonesia. Hewan yang berada di zona orientalis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Banyak spesies mamalia berukuran besar, seperti badak jawa bercula satu (Rhinoceros sondaicus), harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae), harimau jawa (Panthera tigris sondaicus), macan kumbang (Panthera pardus), gajah (Elephas maximus), banteng jawa (Bos javanicus), dan tapir (Tapirus indicus). Terdapat pula mamalia berkantung, tetapi jumlahnya sedikit, bahkan hampir tidak ada.
  • Terdapat berbagai macam primata, terutama di Kalimantan yang paling banyak memiliki hewan primata seperti orangutan (Pongo pygmaeus), bekantan (Nasalis larvatus) dan kukang
  • Terdapat burung-burung yang dapat berkicau, tetapi warnanya tidak seindah burung Australia misalnya: jalak bali (Leucopsar rothschildi), murai (Myophoneus melurunus), burung rangkong (Buceros rhinoceros), ayam hutan berdada merah (Arborphila hyperithra), dan ayam pegar (Lophura bulweri)
  • Hewan-hewan lainnya yang terdapat di zona orientalis yaitu rusa (Cervus timorensis), biawak (Varanus salvator), dan ikan khas Indonesia yaitu ikan arwana (Scleropages formosus

rhinoceros-sondaicus
Sumber: http://www.rainforest-alliance.org

Gambar 1 Badak jawa bercula satu Rhinoceros sondaicus

bekantan
Sumber: https://www.britannica.com

Gambar 2 Bekantan (Nasalis larvatus)

2. Hewan di wilayah timur Indonesia (zona australis)

Hewan-hewan yang berada di wilayah ini memiliki kemiripan dengan yang terdapat di Benua Australia. Hewan yang berada di zona australis memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

  • Terdapat mamalia berukuran kecil. Irian dan Papua terdapat kurang lebih 110 spesies mamalia, seperti: kuskus (Spilocuscus maculatus) dan Oposum. Irian juga terdapat 27 hewan pengerat (rodensial) dan 17 di antaranya merupakan spesies endemik
  • Banyak terdapat hewan berkantung. Irian dan Papua banyak ditemukan hewan berkantung seperti: kanguru (Dendrolagus ursinus) dan kanguru pohon (Dendrolagus inustus)
  • Tidak terdapat spesies primata
  • Terdapat jenis burung berwarna indah dan beragam. Papua memiliki koleksi burung terbanyak dibandingkan pulau-pulau lain di Indonesia, kira-kira 320 jenis dan setengah di antaranya merupakan spesies endemik seperti burung cenderawasih (Paradisaea )
  • Hewan-hewan lainnya yang terdapat di zona australis yaitu monyet hitam (Macaca nigra), kadal berjumbai (Chlamydosaurus kingii), maleo (Macrocephalon maleo), burung merak (Pavo cristatus), burung kasuari (Casuarius bennetti), kakatua raja (Probosciger atterrimus), nuri (Psittrichas fulgidus) dan walabi (Macropus agilis)

kuskus-spilocuscus-maculates
Sumber: http://www.ryanphotographic.com

Gambar 3 Kuskus (Spilocuscus maculatus)

3. Hewan di wilayah tengah (zona peralihan)

Hewan yang terdapat di zona peralihan mempunyai kemiripan antara Benua Asia dan Benua Australia. Beberapa hewan yang terdapat di zona peralihan diantaranya: primata primitif (Tarsius spectrum), musang (Macrogalida musschenbroecki), babirusa (Babyrousa babyrussa), kuskus (Phalanger sp.), anoa (Bubalus sp.), komodo (Varanus komodoensis), burung maleo, dan beberapa jenis kupu-kupu.

komodo

Gambar 4 Komodo (Varanus komodoensis)

 

Sumber:

Ferdinand F, Ariebowo. 2009. Praktis Belajar Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Firmansyah R, Mawardi A, Riandi MU. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Sulistyorini A. 2009. Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Suwarno. 2009. Panduan Pembelajaran Biologi. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Keanekaragaman Tumbuhan Di Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki keanekaragaman tumbuhan (flora) terbesar di dunia. Hal ini dipengaruhi oleh posisi geografis Indonesia yang sangat menguntungkan, yaitu terletak di antara dua benua yaitu benua Asia dan benua Australia. Letak geografis ini dapat memengaruhi persebaran tumbuhan di setiap daerah atau pulau. Indonesia juga merupakan negara kepulauan yang terdiri atas beribu-ribu pulau. Setiap pulau di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang berbeda. Hal ini pulalah yang menyebabkan adanya tumbuhan yang endemik. Selain itu, Indonesia terletak di daerah tropis sehingga memiliki keanekaragaman hayati tinggi dibandingkan dengan daerah subtropis (iklim sedang) maupun daerah kutub (iklim kutub).

Indonesia memiliki sekitar 40.000 jenis tumbuhan. Tumbuahan biji banyak ditemukan di Indonesia yaitu sekitar 25.000 jenis atau lebih dari 10% dari flora dunia. Lumut dan ganggang yang terdapat di Indonesia diperkirakan sekitar 35.000 jenis. Tidak kurang dari 40% dari jenis-jenis ini merupakan jenis yang endemik atau jenis yang hanya terdapat di Indonesia dan tidak terdapat di tempat lain di dunia.

Anggrek (Orchidaceae) merupakan suku yang terbesar di Indonesia dari semua suku tumbuh-tumbuhan yang ada dan ditaksir terdapat sekitar 3.000 jenis. Banyak di antara jenis-jenis tumbuhan tersebut mempunyai nilai ekonomi tinggi antara lain: meranti-merantian (Dipterocarpaceae), kacang-kacangan (Leguminosae), dan jambu-jambuan (Myrtaceaen). Selain itu, diperkirakan di Indonesia terdapat jenis pohon palem terbanyak di dunia, lebih dari 400 jenis pohon yang bernilai komersial (ekonomis). Berikut ini membahas mengenai keanekaragaman tumbuhan di Indonesia berdasarkan jenisnya.

  1. Bryophyta (Lumut)

Kondisi dasar hutan yang basah dan lembap pada hutan hujan tropis merupakan habitat yang sangat cocok untuk habitat Bryophyta. Indonesia merupakan negara yang beriklim tropis dan memiliki hutan hujan tropis yang sangat luas, sehingga dapat menampung cukup banyak spesies anggota Bryophyta. Indonesia memiliki kurang lebih 1.500 spesies Bryophyta dari sekitar 16.000 jenis lumut di dunia yang terdiri atas golongan lumut daun, lumut hati, dan lumut tanduk. Beberapa jenis Bryophyta yang ada di Indonesia diantaranya: Meteorium sp., Marchantia sp., Spiridens sp., dan Calymperes sp..

lumut-daun

Gambar 1 Lumut daun

  1. Pterydophyta (Tumbuhan Paku)

Tumbuhan paku cukup mendominasi di hutan hujan tropis. Tumbuhan ini hidup pada kondisi lingkungan yang basah dan lembap, sehingga tumbuhan paku dapat tersebar di seluruh wilayah hutan hujan tropis Indonesia. Wilayah Malesiana (termasuk Indonesia) di dalamnya terdapat 4.000 spesies tumbuhan paku, sedangkan Indonesia memiliki 1.250 jenis tumbuhan paku dari 13.000 jenis tumbuhan paku di dunia.  Tumbuhan paku ini dapat ditemukan di mana-mana karena tumbuhan paku dapat hidup di tanah, kayu mati, pohon, bahkan di batu. Beberapa tumbuhan paku yang ada di Indonesia antara lain: Selaginella sp., Lycopodiella cernua, Hymnophillum, dan Gleichenia. Tumbuhan paku juga memiliki nilai ekonomis seperti Asplenium nidus (paku sarang burung) dan Platycerium (paku tanduk rusa) yang digunakan sebagai tanaman hias.

 

selaginella-sp
Sumber: http://www.pbase.com

Gambar 2 Selaginella sp.

  1. Spermatophyta (Tumbuhan Berbiji)

Tumbuhan berbiji merupakan tumbuhan yang banyak dijumpai dengan berbagai jenis dan bentuknya. Indonesia memiliki kurang lebih 25.000 jenis Spermatophyta dari sekitar 300.000 jenis Spermatophyta di dunia. Tumbuhan berbiji ini dibagi ke dalam dua kelompok yaitu angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup) dan gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka).

Indonesia dengan iklim tropisnya memiliki cukup banyak spesies dari kedua golongan tersebut seperti familia Dipterocarpaceae. Dipterocarpaceae merupakan famili tumbuhan yang cukup mendominasi hutan hujan tropis dengan tinggi bisa mencapai 70 meter.

Indonesia juga memiliki tumbuhan endemik yang tidak dimiliki oleh negara lain diantaranya: bunga bangkai yaitu (Amorphophallus titanum) Raflesia arnoldi di bengkulu, Sumatera Barat dan Aceh; Raflesia patma di Nusakambangan dan Pangandaran; dan Raflesia borneensisi di Kalimantan;. Selain itu, Indonesia memiliki tumbuhan khas diantaranya: bunga cempaka (Michellia sp.), salak (Salacca zalacca), durian (Durio zibethinus), kedongdong (Canarium ovatum), sukun (Artocarpus altilis), dan mengkudu (Morinda citrifolia). Beberapa contoh gymnospermae yang ada di Indonesia yaitu Pinus merkusii, Ginkgo biloba, dan Cycas.

raflesia-arnoldi
Sumber: https://commons.wikimedia.org

Gambar 3 Raflesia arnoldi

bunga-cempaka
Sumber: http://www.asianflora.com

Gambar 4 Bunga cempaka (Michellia sp.)

Sebagian besar jenis tumbuhan di Indonesia terdapat di kawasan hutan tropika basah, terutama hutan primer yang menutup sebagian besar daratan (63%) bumi Indonesia. Hutan ini merupakan struktur yang kompleks yang menciptakan lingkungan yang sedemikian rupa sehingga memungkinkan keanekaragaman tumbuhan yang tinggi dalam hutan tropika basah.

Selain berbagai macam jenis tumbuhan, Indonesia juga kaya dengan hasil hutan, terutama kayu. Diperkirakan terdapat 4.000 jenis dan 267 jenis di antaranya merupakan kayu niaga yang tergolong dalam 120 macam nama perdagangan. Beberapa di antaranya dapat tumbuh di hutan primer seperti: Pterocymcium spp., Dyera spp., Alstonia spp., Shorea leptosula, S. leptoclados,     S. stenoptera, S. parvifolia, Duabanga moluccana, Tetrameles nudiflora, Octometes sumatrana, Agathis spp., dan Araucaria spp.

Hutan primer merupakan gudang terbesar sumber hayati yang dapat dimanfaatkan selain hasil kayu, seperti buah-buahan (Garcinia, Baccaurea, Eugenia, Durio, Lansium, dan Nephelium), karbohidrat (Dioscorea, Colocasia, Alocasia, Arenga, Mypa, Metroxylon, dan Palmae), zat pewarna, minyak atsiri, pestisida (Podocarpus, Perris, Milletia, dan Tephrosia), dan obat-obatan (obat tekanan darah tinggi, seperti Rauvolfia, Alstonia, dan Apocynacceae), baik secara langsung maupun dimanfaatkan sebagai sumber bahan genetika untuk pemuliaan jenis atau famili yang telah dibudidayakan.

 

 

 

Sumber:

Ferdinand F, Ariebowo. 2009. Praktis Belajar Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Firmansyah R, Mawardi A, Riandi MU. 2009. Mudah dan Aktif Belajar Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Sulistyorini A. 2009. Biologi 1. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.

Suwarno. 2009. Panduan Pembelajaran Biologi. Jakarta: Pusat Perbukuan Departemen Pendidikan Nasional.